Susah sekali mendapatkan terjemahan yang tepat untuk nerveousness, namun untuk jurnal kali ini rasanya kata yang paling mendekati mungkin adalah “Kepanikan”. Yang ingin disampaikan disini adalah fenomena yang luar biasa di sekitar kita terhadap respon pasar atas kejadian/kesempatan yang muncul yang menarik (attractive) bagi pasar (market). Apa kekuatan yang luar biasa dibalik respon pasar sehingga konsumen rela berbondong-bondong mengantri, menunggu berjam2, kadangkala membayar lebih mahal untuk sesuatu yang luar biasa juga, ataubahkan ramai-ramai menjual?

Antrian konsumen secara singkat dapat dibagi berdasarkan beberapa situasi, antara lain:

  1. Produk / layanan yang sedang tren. Contoh: J-Co, Breadtalk, saham
  2. Produk / layanan yang luar biasa. Contoh: Coto Makasar Karebosi, bakmi GM, Carrefour
  3. Akan terjadi kenaikan harga. Contoh: kenaikan BBM.
  4. Sedang ada potongan harga sesaat. Contoh: one-day sale, mid-nite sale, etc.
  5. Kelangkaan Produk. Contoh: kelangkaan minyak tanah, tiket pesawat/KA, elpiji.
Yang pasti diantara kelima kategori tersebut kelangsungannya bersifat temporer. Wajar jika terjadi antrian ketika produk yang dicari sifatnya langka. Namun untuk keempat hal lainnya, diperlukan situasi yang sangat khusus, strategi yang tepat, dan juga pasar yang tepat.

Kepanikan Pasar ini sebenarnya merupakan potensi tapi juga sekaligus keprihatinan. Disebut potensi karena ada peluang bagi para produsen untuk memanfaatkan momentum tersebut sebagai sasaran pencapaian target jangka pendek. Namun prihatin dari sisi konsumen, karena itu menunjukkan betapa moral “mencari kesenangan” sesaat terjadi dalam masyarakat kita.

Peluang Jangka Pendek

Sangat umum terjadi di Indonesia untuk mengalami fenomena “Rush”. Artinya pasar di Indonesia cenderung sensitif terhadap sesuatu hal yang berbau pada keuntungan. Contohnya yang baru-baru ini terjadi misalnya penjualan besar-besaran saham akibat krisis ekonomi global. Walaupun realistisnya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang ingin merugi, tapi nyatanya pasar Indonesia merespon paling luar biasa hancur. Panik, sehingga berbondong-bondong menjual. Nanti begitu mulai membaik, baru ramai2 beli lagi bisa jadi malah dengan harga lebih mahal.

Bagi orang-orang tertentu hal tersebut dimanfaatkan sebagai peluang jangka pendek. Artinya yang mencari keuntungannya otomatis tidak bisa konsisten jangka panjang. Namun terus berusaha mencari atau tepatnya memanfaatkan “kepanikan” pasar yang terjadi.

Contoh Lain

Contoh-contoh sebelumnya banyak menyebutkan hal-hal dari sudut pandang konsumen, namun “kepanikan” pasar juga terjadi dari sisi penjual. Misalnya momentum hari Raya, seminggu menjelang hari raya tiba-tiba saja jalanan tertentu dipenuhi oleh para penjual petasan/kembang api. Luar biasa banyaknya, hanya selisih 1 meter maka sudah ada penjual sejenis lainnya.

Perkiraan lebih lanjut saat menjelang Tahun Baru nanti, pasti juga demikian dengan bermunculannya pedagang terompet. Walaupun yang membeli juga banyak, tapi rasanya produk-produk tersebut sangat “over-supplied”. Yang rugi sebenarnya adalah pasar yang panik itu sendiri. Modal besar dan juga waktu sudah dikorbankan, tapi tidak banyak keuntungan yang diraup. Ada sih sedikit, tapi tidak sebanding dengan bayangan yang diharapkan.

Kira-kira dua tahun yang lalu juga pernah terjadi soal tren penjualan Pisang Goreng Ponti, ramai-ramai pula orang yang berjualan. Sementara konsumen tetap saja rela antri beli di tempat tertentu yang dianggap paling enak, walaupun harganya lebih mahal.

Pasar yang memprihatinkan namun ternyata memberikan peluang bisnis yang cukup bagus jika bisa dimanfaatkan secara jeli dan tepat.

Advertisements