Di tengah pasar yang sudah mulai beradaptasi terhadap dampak kenaikan BBM yang lalu, kini Pemerintah mencoba untuk mengeluarkan kebijakan populis dengan menurunkan harga BBM: Premium. Itupun pastinya karena banyak desakan baik dari DPR maupun pihak-pihak lainnya. Walaupun harga minyak mentah dunia saat ini sudah turun, namun bukan berarti pemerintah perlu melakukan tindakan serupa. Sudah waktunya BBM: Premium tidak lagi disubsidi. Satu-satunya BBM yang perlu disubsidi adalah minyak tanah dan solar jika perlu.

Penurunan tersebut hanya akan membawa tanggung jawab baru bagi Pemerintah. Sudah dapat ditebak jika kemudian Pemerintah dituntut untuk mengendalikan beberapa harga bahan pokok agar mengalami penurunan. Padahal menurunkan harga yang sudah ada dipasar tidaklah mudah. Terutama bagi pelaku industri yang sudah melakukan penyesuaian mulai dari harga produksi, tunjangan transportasi bagi karyawan, dan sebagainya.

Mudah bagi orang-orang untuk mengatakan penurunan harga BBM. Namun seharusnya tidak perlu kesana arahnya. Rupiah yang dihasilkan dari selisih subsidi harusnya dapat digunakan untuk investasi hal yang lain yang lebih mengena kepada rakyat yang membutuhkan.

Apakah kemudian harga-harga di pasar akan turun, rasanya tidak. Karena harga di pasar mengikuti hukum supply demand. Jika ingin menurunkan harga pasar, perbanyaklah supply jika over lakukanlah ekspor.

Penurunan 500 Rupiah ataupun 1500 Rupiah sekalipun tidak akan memberikan dampak signifikan. Pemerintah tidak perlu menurunkan harga BBM: Premium.

Advertisements