Artikel ini tidak membahas perbedaan antara modern store dan traditional store secara fundamental, namun lebih kepada potensi pemasaran dalam bentuk aktivasi yang bisa dioptimalkan oleh para pemilik retailer kedepannya.

Modern store bukan sekedar proses bisnisnya yang modern, tapi juga menawarkan konsep optimalisasi marketing channel yang utuh. Aktivasi-aktivasi merek dilakukan secara sistem, sehingga ini yang membedakan dengan Traditional Store.

Kebanyakan traditional store sifatnya pasif, atau yang paling penting adalah tersedianya produk-produk yang dijual oleh distributor / supplier. Sementara Modern Store menyediakan kesempatan bagi supplier lebih dari itu, yaitu kesempatan untuk para pemilik merek untuk melakukan kegiatan promosi dengan biaya tertentu.

Modern store dengan kata lain memiliki value stream tidak hanya berasal dari penjualan produk, melainkan juga fee marketing yang ditawarkan kepada para pemilik merek.

Traditional Store tertentu sudah ada yang menerapkan konsep tersebut, namun masih sangat tergantung karakter individu dibelakangnya apakah pemilik maupun pengelolanya. Sehingga belum ter-sistem seperti halnya modern store.

Kenapa traditional store perlu mencoba konsep aktivasi merek seperti halnya modern store? Persepsi yang muncul bahwa traditional store lebih murah, kemudian cenderung lebih dekat dengan konsumen karena lebih banyak, kemudian karena yang jaga outlet biasanya sudah atau ada yang senior maka banyak konsumen yang merasa lebih nyaman dan bisa terjalin komunikasi.

Syarat mutlak bagi traditional store untuk mengikuti jejak langkah modern store dalam konteks ini antara lain:
• Memiliki pengunjung yang ramai.
• Sales counter yang dapat menawarkan dan menjalaskan produk dengan baik.

Biasanya Traditional store dalam menerapkan konsep ”memasarkan” diberikan dalam bentuk insentif yang diberikan pada periode tertentu. Sedangkan pada Modern store, biaya pemasaran seperti itu banyak dilakukan di depan.

Jika melihat jumlah Traditional Store yang jauh lebih banyak dibandingkan modern store, maka ini sebenarnya merupakan peluang baik bagi para pemilik merek maupun pengelola outlet itu sendiri untuk meningkatkan nilai bisnisnya.

Seperti pada pembahasan terdahulu, keputusan pembelian banyak terjadi di titik pembelian. Sesuai dengan perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung ”impulsive”. Kesimpulannya aktivasi merek sudah waktunya merambah secara sistem di Traditional Store untuk menangkap peluang bisnis yang jauh lebih baik.

Advertisements