Gencarnya promosi SMS premium seperti tidak habis-habisnya. Variasinya pun makin gila-gilaan. Walau tergolong mahal karena per sms yang diterima dikenakan biaya Rp.2000,- tapi sepertinya industri ini masih laris manis seperti halnya makanan kaki lima.

Hal yang menarik dari SMS premium adalah dari sisi konsumennya. Konsumen SMS premium ternyata datang dari masyarakat “bawah” dan juga ABG. Atau konsumen yang budget pulsa per bulannya tidak lebih dari 50 ribu Rupiah. Karena konsumen masyarakat bawah, maka vendor content yang laku pun adalah yang menyediakan kategori: Lagu, gambar, dan undian.

Tergolong jahat memang, para operator dan juga vendor yang menyedot untung justru dari para pengguna SMS premium yang sebenarnya tidak layak untuk menghamburkan uangnya sia-sia. Dengan dalih sebagai media hiburan, konten SMS premium bisa menimbulkan adiksi atau kecanduan. Tidak heran jika anak-anak yang sudah menggunakan HP bisa menghabiskan 50 ribu dalam sebulan atau bahkan lebih besar lagi.

Bagaimanapun industri musik pun terdongkrak kembali setelah sempat seret akibat merebaknya MP3 bajakan yang mengambil share penjualan kaset atau CD. Penjualan ring tone dan yang lebih heboh nada sambung sebagai basis income industri musik saat ini yang cukup potensial dan akan terus berkembang.

Tidak terasa memang jika untuk sekali akses SMS premium menyedot pulsa antara 2.000 – 20.000. Sehingga konsumen benar-benar perlu berhati-hati dengan minimnya informasi yang diberikan.

Pasar SMS premium sungguh luar biasa, dan tidak hanya musik. Jika disalahgunakan oleh para penyedia konten yang tidak bertanggung jawab, saat ini sudah banyak beredar content-content yang mulai menjurus kepada pornografi walau masih tidak terlalu ekstrim. Penyaringan informasi yang layak diterima oleh pengguna tidak bisa dilakukan, terlebih jika tadi market tersebarnya adalah para ABG dan juga para masyarakat yang “pas-pasan” namun teradiksi oleh konten SMS tersebut.

Wajar jika pasar SMS premium begitu riuhnya di kelas masyarakat tersebut. Karena mereka: (1) awam terhadap penggunaan GPRS untuk akses informasi yang lebih murah, (2) tidak memiliki sarana hiburan lain, dan (3) banyak membaca promosi2 SMS premium di media cetak yang sesuai pula dengan segmennya.

SMS premium dalam 5 tahun ke depan akan masih memiliki potensi yang sangat baik. Kecuali terjadi edukasi besar-besaran dan teknologi handset yang menyediakan akses informasi seperti internet bisa lebih murah, maka industri konten bisa mulai tergeser.

Advertisements