Setahun yang lalu merupakan era dimana IHSG untuk pertama kalinya mencapai poin di atas 2000. Kuartal 3 2008 merupakan periode dimulainya krisis ekonomi global, dan disinyalir akan mengulang kejadian tahun 1997 yang lalu.

Indonesia sendiri terhadap krisis tersebut secara umum tidak banyak terasa dibandingkan 1997, walaupun mengakibatkan bursa saham terjun bebas hingga menyentuh di angka 1000an. Demikian pula dengan Rupiah yang hingga saat ini tidak bergerak dikisaran 11.000 – 12.500 per 1 USD. Perlu disyukuri hal tersebut ternyata tidak membawa dampak yang signifikan terhadap daya beli masyarakat kebanyakan. Konon hanya para investor-investor dan juga para exportir yang terkena dampak.

Jatuhnya harga Minyak Dunia

Gejalanya adalah bom waktu kasus kredit macet di US terutama sektor property. Ketika mencapai puncaknya mulai merembet ke berbagai sektor industri di US termasuk otomotif. Akibatnya industri di US membutuhkan banyak suntikan dana yang luar biasa untuk mempertahankan ke langsungan industri-nya. Para industri pun otomatis melakukan berbagai macam pengetatan biaya. Termasuk salah satunya konsumsi BBM. Sehingga dengan berkurang drastisnya konsumsi BBM dunia yang didominasi oleh market US, terjadi over supply yang perlu disyukuri oleh kebanyakan konsumen di Indonesia adalah penurunan harga BBM. Harga minyak dunia yang over supply jatuh bebas hingga kisaran 40 USD per barel.

Kembali lagi ke situasi krisis di US yang perlu ditopang oleh dana yang besar, akibatnya investor US di luar negeri termasuk Indonesia harus menarik diri untuk menyelamatkan asetnya di negaranya sendiri. Ini yang menjadi pemicu terjun bebasnya harga saham, belum lagi investor lokal dan non US lain yang terpancing aksi jual saham karena takut makin merugi yang justru memperparah situasi.

Dampak ke Rupiah

Dengan keluarnya investor US, tentunya kebutuhan akan Dollar meningkat. Karena transaksi di bursa Indonesia dengan Rupiah, dan untuk kembali ke negaranya diperlukan US. Dan inilah penyebab meningkatnya nilai tukar US, karena investor tadi berbondong-bondong menarik uangnya ke US. Cadangan RI rupanya tidak cukup kuat untuk menarik Rupiah kembali ke kisaran 9000an.

Dampak Industri Export
Walau eksportir merasakan keuntungan dari nilai tukar yang meningkat, namun itu hanya dirasakan sesaat. Karena ketika pintu impor di US diperketat, akibatnya volume penjualan ke US pun berkurang drastis. Industri tekstil merupakan salah satu yang kena dampak paling hebat. Keuntungan hanya dirasakan di Q3 dan Q4 2008, namun di awal tahun dengan berkurangnya demand expor otomatis produksi tidak dilakukan dan banyak terjadi PHK.

Dampak perekonomian Indonesia

Karena industri ekspor ini mengurangi produksi, terjadi PHK atau paling tidak pengurangan insentif pendapatan. Akibatnya daya beli yang menurun, dan roda perekonomian mengalami perlambatan di Q1 2009 ini. Klaim yang diekspos oleh pemerintah terutama partai yang yang mendukung pemerintah merupakan informasi-informasi 2008. Bagaimanapun tahun 2009 diperlukan strategi ekonomi yang berbasis pada konsumsi dalam negeri. Tidak mengandalkan ekspor dan juga impor.

Memperkuat kembali nilai Rupiah

Ketergantungan kepada US harus diminimalkan dan mulai mencari investor non US seperti Eropa dan Timur Tengah. Dengan menarik investor tentunya memperkuat kebutuhan Rupiah dan bisa memperbaiki nilai tukar. Paling tidak terhadap mata uang Euro maupun mata uang non USD lainnya.

Disamping itu proteksi terhadap industri lokal mutlak diperlukan, misalnya dengan kampanye industri tekstil Indonesia yang berkualitas. Industri yang berbasis pada rakitan dalam negeri, dan tentunya untuk sektor pangan pun demikian. Memperkecil ketergantungan impor. Sementara ekspor di negara-negara non US perlu diberikan insentif yang lebih agresif. Misalnya ke Timur tengah, Australia, dan Eropa sebagai pasar yang sebenarnya luar biasa besar.

Saingan terberat tentu datang dari Cina yang sudah lebih dahulu ber-gerilya membangun mitra dengan negara-negara investor. Krisis di US tentunya membawa dampak yang cukup besar juga, tapi banyak industri non US yang sudah membangun basis produksi disana.

Nilai Tambah Indonesia

Keragaman sumber daya alam dan tentunya ketersediaan tenaga kerja menjadi nilai jual yang kompetitif untuk dibandingkan dengan Cina. Dengan tidak berpusat di Jakarta ataupun pulau Jawa, tapi mengoptimalkan lahan-lahan yang bisa menjadi sentra trading seperti halnya Singapura. Medan, Makasar, Surabaya, Balikpapan, Palembang merupakan kota-kota yang berpotensi menjadi kota industri besar.

Pada akhirnya pemerintah memang perlu didukung oleh praktisi marketing yang handal. Untuk menjual dan untuk menarik para investor tersebut kembali. Akhirnya IHSG membaik, dan nilai tukar Rupiah menguat. Kondisi seperti inilah yang terjadi jika suatu negara sangat mengandalkan investasi dari luar negeri. Tapi hal tersebut tidak dapat dipungkiri, mengingat keterbatasan teknologi dan juga dana yang dimiliki oleh Indonesia.

Advertisements