Sebelumnya sudah ada artikel yang bertemakan “My Customer is My Salesman”, idenya adalah menjadikan pelanggan tidak hanya sebagai ambasador tapi juga sebagai influencer. Menjadikan pelanggan sebagai influencer tentunya harus melewati beberapa tahapan dan harus diikuti dengan program-program yang menstimulus konsep tersebut untuk dijalankan.

Wikinomics, sebagaimana yang dijelaskan detail pada konsep tersebut menunjukkan bahwa bisnis atau industri yang eksis berkat kontribusi dari afiliasi-afiliasi independen. Para kontributor yang dimaksud kebetulan memiliki tujuan yang sama, sehingga terciptalah konsep open-source seperti linux, facebook, my space, friendster, youtube, dan makin banyak lagi pengikutnya.

Affiliation based Marketing

Bagi kami-kami yang belum mencapai tahapan wikinomics tersebut tentunya sangat mengidamkan kesuksesan yang sama. Sebagai langkah awal, maka sistem Facebook sangat bisa diaplikasikan ke dalam dunia nyata. Atau bahkan sebaliknya, aplikasi Facebook lah yang mencontoh konsep Multi-Level-Marketing. Namun karena persepsi yang cenderung negatif, popularitas MLM walau tinggi namun belum berhasil menggaet massa yang lebih massive. Mengapa?

  1. MLM orientasinya sangat kental dengan “bisnis”. Karena memang sasaran finansial yang hendak dicapai, dan tidak ada yang salah.
  2. Praktek yang salah sering menimbulkan kesan “pemaksaan” dan juga janji-janji yang berlebihan.
  3. Bagi yang “tidak berbakat” tentunya hanya menjadi obyek, dan merasa bahwa MLM hanya menguntungkan bagi upline-upline yang telah lebih dulu berjalan.
  4. Konsep upline dan downline mengakibatkan lingkup para downliners yang baru-baru ruang geraknya makin sedikit. Selain sudah banyak yang jadi anggota, orang lain yang non-member kebanyakan pun sudah pernah mendapat “prospek” dan tidak menarik.

Berbeda dengan Facebook atau komunitas online sejenis lainnya, Facebook berbasis pertemanan tanpa mengenal upline dan downline. Dan semuanya sejajar, yang membedakan tiap individu adalah berapa banyak teman yang sudah dimilikinya dan status-status yang melekat pada dirinya.

Facebook Marketing

Konsep marketing yang bercermin pada facebook sangat bisa diaplikasikan. Maksudnya begini, sebelum mengeluarkan banyak biaya dan juga usaha untuk melakukan aktivitas promosi ke external maka dimulailah dari lingkungan terdekat. Biasanya hal ini sudah pasti dilakukan, namun banyak juga yang tidak terkonsep. Maka untuk penerapannya perlu melihat beberapa langkah berikut:

  1. Pilih teman yang sekiranya memberikan kontribusi positif bagi anda. Pastinya teman yang memiliki jaringan pertemanan luas dan juga bersifat kritis. Jangan semuanya merupakan teman yang hanya setuju dengan anda, akibatnya pemasarannya nanti tidak dinamis. Pilihlah sebagian teman anda mungkin yang justru sering mengkritik anda.
  2. Ajak teman anda untuk memikirkan mengenai positioning dan juga cara pemasaran yang sesuai untuk produk atau layanan anda. Dengan demikian teman-teman anda ini memiliki rasa kepemilikan tanpa harus adanya penyertaan modal.
  3. Bagi teman-teman yang berkontribusi ini, tentunya mereka perlu diberikan insentif. Misalnya dalam bentuk komisi. Dan tentunya bukan paksaan. Hanya saja jika ada pembeli yang menyebutkan teman ada sebagai referensinya, maka teman anda berhak mendapatkan komisi tersebut.
  4. Perlu diingat bahwa tidak ada unsur paksaan. Teman-teman anda yang memberikan kontribusi pun bisa silih berganti dan tidak perlu terpatok pada teman-teman yang anda bentuk diawal.
  5. Teman-teman anda ini perlu dikukuhkan sebagai mitra platinum misalnya, selain untuk menghargai dengan segala hak-hak yang bisa diperoleh, identitas tersebut juga sebagai kelayakan bahwa teman anda memang layak untuk mengkomunikasikan produk/layanan anda.

Konsep Produk / Layanan

Marketing yang bagus tentunya harus didukung oleh produk / layanan yang bagus, sebaik-baiknya komunikasi hanya akan mengakibatkan “over promised” dan anda tidak lagi dipercaya. Sehingga itulah gunanya langkah 1 hingga 2, anda tidak perlu memikirkan segalanya sendirian. Semi FGD (Focus Group Discussion) ini akan sangat membantu mengembangkan produk yang tepat di pasar. Seperti tulisan sebelumnya mengenai “Product that Fit the Market”.

Dalam mengembangkan produk perlu dipikirkan mengenai:

  1. Target pasarnya siapa, apakah anak-anak, ibu-ibu, pria, mahasiswa, abg, atau bahkan all segment. Yang pasti target pasar harus jelas, dan sangat disarankan spesifik untuk mempermudah proses komunikasi selanjutnya.
  2. Positioning apa yang sesuai dengan target pasar tersebut. Positioning berguna untuk menjadi identitas atau asosiasi yang mudah diingat oleh calon konsumen yang tepat. Positioning pastinya harus menarik dan spesifik. Misalnya untuk bisnis kafe “Gratis kopi untuk mahasiswa”.
  3. Manfaat atau benefit produk / layanan tersebut yang diunggulkan, dibandingkan dengan kompetitor lain. Bisa menggunakan konsep paling murah, paling banyak, paling kenyang, paling cepat, paling enak, paling mudah, yang terpenting jelas pembedanya.
  4. Kemudahan akses. Misalnya lokasi toko yang strategis di dalam pusat perbelanjaan, atau belanja secara online, tersedia katalog atau display / contoh produk, bisa diantar, dan sebagainya.
  5. Layanan purna jual. Banyak penjual yang mengabaikan hal ini, misalnya barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar dan sebagainya, lantaran penjual memberikan batasan atau penolakan terlebih dahulu tanpa melihat apa permasalahannya. Yang terpenting dalam layanan purna jual adalah dalam hal complaint handling. Apapun keluhan yang disampaikan oleh pelanggan wajib diterima. Sesuaikan dengan kondisi pastinya.

Penutup

Tanpa perlu berpanjang lebar, karena aplikasi dari konsep ini sungguh praktis maka cukup disimpulkan bahwa konsep facebook sangat bisa dicontoh sebagai model pemasaran modern. Tidak harus memanfaatkan facebook sebagai media promosi, tapi dengan menciptakan facebook-facebook yang lain yang sesuai dengan bisnis yang hendak dijalankan.

Masih banyak fitur facebook yang bisa dicontoh disamping konsep pertemanannya, mulai dari update status, aplikasi, fans, dan sebagainya.

Advertisements