Istilah autis ini mendadak terkenal lantaran semakin booming-nya penggunaan blackberry saat ini di Indonesia terutama Jakarta. Penggunaan kata autis ini mungkin disebabkan kecenderungan orang-orang yang sudah memegang blackberry menjadi lupa akan dunia luar, sibuk dengan pesan-pesan yang muncul di handset tersebut. Bisa dikatakan ini adalah fenomena kecanduan dari penggunaan blackberry. Sehingga autis ini sebenarnya memberikan makna orang yang asik sendiri, ya bahasa umumnya just make fun for ourselves.

Oleh karena itu saya ingin menganalogikan istilah autis ini (dalam definisi life style: bukan istilah untuk penyandang autisme sebenarnya) terhadap lingkungan dalam organisasi yang jelas-jelas ternyata memiliki banyak kesamaan. Autis dalam arti “Asik Sendiri” ternyata cukup banyak ditemui dalam lingkungan kerja.

Gejala

Apa ciri-ciri atau gejala autis dalam organisasi? Mudah saja, kita seringkali menemukan bahwa tiap bagian ternyata begitu sibuknya mempertahankan apa yang menjadi kinerja bagiannya dan tidak jarang menimbulkan konflik dalam organisasi. Konflik ini kemudian akhirnya merugikan bagi layanan kepada pelanggan dan apalagi kepada organisasi.

Lebih jelasnya lagi kita mungkin menemukan beberapa individu ingin tampil menonjol dengan menunjukkan kompetensinya namun secara jelas pula mengesampingkan tujuan utama dari organisasi. Kita juga mungkin akan banyak melihat proyek-proyek yang diluncurkan dalam organisasi, terlihat demikian sibuk, menghabiskan banyak dana, namun lagi-lagi tidak memiliki dampak atau kontribusi yang nyata terhadap tujuan organisasi.

Karena ternyata tidak sedikit suatu departemen yang begitu asik dengan tujuannya, dan lagi-lagi lupa atau bahkan mengabaikan tujuan dari organisasi. Karena orang-orang yang dalam organisasi tersebut begitu tergila-gilanya kepada kinerja individual.

Meskipun sudah ada teori mengenai “Balanced Scorecard” yang cukup kompleks, namun teori itu sulit diterima bagi orang-orang yang sudah merasa “benar”. Akibatnya banyak strategi dan proyek dimunculkan sebagai alat untuk “memeriahkan” organisasi, sebagai indikator yang menunjukkan bahwa organisasi begitu dinamis dan aktif namun sebenarnya rapuh.

Mengatasinya

Jika sudah demikian maka untuk memutus fenomena autis ini mau tidak mau adalah dengan jalan radikal. Memutus semua penyebab “keasikan sendiri” dalam suatu bagian. Sudah waktunya tiap bagian diberi tantangan dan terutama diukur mengenai kontribusinya terhadap organisasi.

Pemilik bagian tentunya harus yang pertama kali membuka mata, bahwa masalah bagian yang lain juga merupakan bagian dari masalahnya. Untuk menjadikan kesamaan tujuan ini maka bisa dibantu dengan cara:

  • Menempatkan tujuan sekaligus ukuran keberhasilan yang sama untuk seluruh bagian dalam organisasi. Dengan demikian, tiap organisasi akan selalu berpikir dua kali apakah yang akan mereka lakukan memberikan manfaat atau justru merugikan bagi organisasi.

Dengan demikian sebenarnya tidak sulit untuk mengurangi aktivitas-aktivitas yang bernuansa autis dalam organisasi. Dalam internal organisasi juga diperlukan orang-orang yang berani berbicara kritis dan mampu menyampaikan usulan-usulan perbaikan, sehingga itulah sebuah organisasi yang dinamis dan aktif bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang asik sendiri.

Advertisements