Sebagai salah satu operator CDMA di Indonesia, Esia patut diacungi sepuluh jempol. Inovasi-nya sungguh terdepan dan memiliki konsep serta komitmen yang unggul. Hal tersebut sudah muncul sejak awal diluncurkannya Esia di Indonesia, bahkan inovasinya membuat operator besar baik GSM maupun CDMA mengekor langkah-langkah promosi yang dilakukan.

Pertama inovasi yang paling mendasar adalah konsep biaya telpon murah. Tidak dapat dipungkiri CDMA memang memiliki keunggulan biaya telpon yang lebih murah dibandingkan GSM. Tidak terjebak dalam promosi yang jor-joran namun cenderung menipu, Esia tetap konsisten dengan biaya 50 Rupiah per menit. Begitu pula dengan tarif SMS, bahkan sekarang dengan konsep 1 Rupiah per karakter walaupun ini diragukan tingkat “kemurahannya”, karena maksimal karakter artinya senilai 160 Rupiah.

Kedua Esia sadar bahwa tarif murah tidak cukup. Awal mulanya produk CDMA selalu dibayangi oleh produk handset yang lebih mahal dibandingkan GSM. Namun esia membuat kerjasama dengan berbagai pabrikan untuk menghasilkan bundling telpon yang paling murah, bahkan paling murah dibandingkan operator manapun  yang pernah tawarkan.

Ketiga, paling murah ternyata buka minim kualitas. Walau harus diakui masih ada kekurangan dalam hal coverage, tapi ternyata itu cukup menjawab kebutuhan kebanyakan konsumen. Nyatanya banyak produk-produk inovatif yang dimunculkan oleh Esia baik dari sisi Desain, fungsi, bahkan gaya. Contohnya HP paling tipis, Esia Hidayah, Esia Messenger, dan sungguh banyak lagi.

Keempat, sejak awal Esia tidak ingin memposisikan untuk menggantikan handset utama dari konsumen. Melainkan menjadi pelengkap. Teknologi unggul dari GSM tidak bisa dipungkiri baik dari sisi jaringan maupun kualitas handset, karena itu Esia memposisikan sebagai pelengkap. Karena tren di Indonesia masyarakat yang tergolong mampu akan memiliki lebih dari 1 handset. Namun demikian Esia juga ingin memposisikan sebagai alat komunikasi di “entry level”, atau tingkat pemula. Karena dengan harga yang paling murah ini menjadikan Esia bisa dimiliki oleh siapapun. Tidak heran kita bisa melihat maaf tukang sampah, penjual kaki lima, dan sebagainya saat ini sudah menenteng HP esia.

Kelima, Esia masuk dalam channel pemasaran yang baru. Tidak hanya melakukan promosi di tingkat retailer seluler, Esia melakukan promosi dengan cara membuatkan papan iklan untuk warung makan, toko kelontong, dan sebagainya. Dan benar-benar inovasi pemasaran yang luar biasa untuk meningkatkan awareness dan kesan dominasi. Dan terlihat tidak lama kemudian konsep tersebut mulai ditiru oleh berbagai operator seluler lainnya. Untungnya esia tidak terjebak pada promosi-promosi berlebihan seperti iklan disepanjang jalan tol yang rasanya buang-buang duit saja. Tidak hanya komunikasi, Esia memberdayakan para konsumen dan juga retailer untuk bisa melakukan penjualan pulsa.

Dengan terus menerus melakukan inovasi, Esia dengan langkah pasti akan semakin meningkatkan pangsa pasar ditengah persaingan operator seluler yang makin brutal. Industri seluler ini saat ini dipaksa untuk menikmati marjin yang sangat tipis jika ingin bersaing. Hanya Telkomsel saja yang merasa sudah mendominasi pasar yang masih enggan untuk menurunkan tarif. Wajar saja, buat apa tarif diturunkan jika masih belum terasa dampak penjualannya.

Inovasi dalam organisasi tentunya berangkat dari manajemen yang inovatif, memiliki idealisme kuat namun juga sangat market oriented, sehingga produk mudah untuk diterima dan bahkan memberikan kesan kagum di mata konsumen.

Advertisements