Kalbe merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, baru-baru ini meluncurkan produk andalan terbarunya yaitu Promuno. Promuno dipasarkan sebagai produk suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Review Marketing

Promuno ternyata menggunakan umbrella brand “Procold” yang selama ini dikenal dengan obat flu. Penggunaan umbrella brand ini konon memang dikenal sebagai pengaman, supaya konsumen tidak melihat bahwa produk ini merupakan pemain baru melainkan bisa mendompleng dari popularitas brand existing.

3 benefit yang efektif terkomunikasikan, ini merupakan ciri edukasi yang jelas. Karena ini produk baru, konsumen memerlukan penjelasan yang jelas namun singkat. Ketimbang banyak mengeluarkan tulisan kalimat yang “membosankan” dan mungkin juga “ilmiah”, lebih baik langsung tonjolkan saja apa manfaat dari produk ini.

Tagline yang merupakan positioning juga luar biasa terkomunikasikan. “Suplemen andalan pencegah flu”, ini edukasi yang hebat. Biasanya orang berobat ketika sakit, tapi dengan tagline ini konsumen langsung tahu jika tidak mau sakit antisipasi dengan produk ini.

Penggunaan rasa anggur di awal launching produk ini pastinya sudah melewati research yang dalam, bukan hanya berbekal keyakinan “pedagang”. Meniran / phyllantus niruri yang digunakan sebagai bahan dasar produk ini memang memiliki rasa yang belum tentu disukai oleh banyak orang. Sehingga menggunakan rasa anggur merupakan solusi generik dengan harapan produk ini bisa diterima semua kalangan.

Kelemahan dari produk ini terletak dari rasa anggur itu sendiri, apakah memang menggunakan sari buah asli ataukah kimia. Karena konsumen pun sudah mulai pintar mencermati bahwa produk dengan rasa tertentu pastinya menggunakan kimiawi, sehingga malah jadi ragu untuk mengkonsumsi secara rutin. Kecuali rasa orange / jeruk yang memang umum ditemui pada Vitamin C.

Bentuk effervecent ini memang inovatif, tapi seperti soal rasa diatas terkadang bentuk kimiawi ini malah membuat konsumen jadi ragu karena banyaknya kimia yang mungkin digunakan. Dan yang tidak kalah penting adalah, kurangnya anjuran bagaimana produk ini harus dikonsumsi? apakah tiap hari, ketika mau sakit? Dibandingkan dengan Vitamin, kita bisa mengatakan konsumsi tiap hari. Tapi bagaimana dengan produk ini? Poin ini masih belum jelas dikomunikasikan. Sehingga segmen konsumen menjadi sempit, yaitu hanya orang-orang yang sudah mengenal produk sistem imun saja.

Kesimpulannya, ini produk inovatif dengan komunikasi yang sudah cukup baik juga. Kekurangannya yang disampaikan bisa diantisipasi dalam program komunikasi mendatang. Karena dari sisi produk dan kemasannya saja ini sudah sangat mengedukasi.

Ini akan menjadi pertempuran yang seru bagi pemain imunomodulator di pasaran yang saat ini didominasi oleh Stimuno. Dulu pernah ada juga produk dari Kimia Farma, yaitu Fituno tapi sepertinya saat ini sudah tidak terdengar lagi. Redoxon dari Bayer pun menggunakan embel2 imun “Fortimun” untuk mencoba mencuri cerug pasar sistem imun.

Fenomena ini pernah kita lihat pada produk isotonik, sekarang tinggal pabrikan yang inovatif saja yang pada akhirnya akan menguasai pasar.

Advertisements