Kisah peti mati si Sumardy telah berhasil menyita perhatian publik dalam seminggu terakhir. Walaupun ada ancaman pidana akan tindakan ekstrim yang diklaimnya sebagai strategi marketing, namun suka tidak suka publik menjadi menyimak siapa sosok Sumardy dan apa yang dia lakukan.

Resikonya memang ada cemoohan, pujian, dan juga cap keteledoran. Imbasnya juga bermacam-macam, dan pada saat seperti ini seharusnya yang bersangkutan segera menindaklanjuti dengan tindakan yang counterproduktif. Paling tidak untuk segera membersihkan nama baik.

Bicara soal judul buku yang hendak dipublikasikannya, yaitu Advertising Killed by Word of Mouth Agency, tulisan jenis tersebut sudah banyak jenisnya dipasaran. Bukan pada konteks Word-of-Mouth nya, tapi judul ekstrim yang digunakan seperti Killed, killer, the next generation, dan apapun.

Banyak praktisi yang terburu-buru, atau tepatnya ingin lebih dulu menciptakan momentum sebagai yang pertama mengklaim atau menganalisa fenomena tersebut. Padahal di era 2000an ini, yang terjadi adalah multi-trend ketimbang trend itu sendiri. Sudah terjadi pemberontakan bahwa trend tidak lagi monoton. Siapapun berhak menjadi trendsetter dan memiliki follower-nya. Yang oldies akan tetap memiliki penganut setia, yang new comer juga berjuga membangun “rakyat baru”.

Inilah yang menarik, dan saya sangat menyukai buku “The Long Tail”. Ketika dunia tidak lagi ada yang mendominasi. Mulai muncul variasi yang kompetitif, pilihan-pilihan dan tidak ada keterikatan atau fanatisme ekstrim. Masing-masing boleh memiliki identitas individu maupun group. This is Freedom Generations.

Jadi … penggunaan kata Killer, Killed, ini rasanya terlalu berlebihan. Lihat saja iPad Killer, ATL Killer, Windows Killer, semuanya berusaha menggeser sang dominan. Tapi ya … kita harus siap menerima kenyataan bahwa “Tidak ada lagi single Trend”.

Advertisements