Bahasan mengenai alasan karyawan resign mungkin sudah cukup banyak, tapi mengapa karyawan talent pergi ini jadi soal utama bagi perusahaan maupun karyawan.

karyawan talent idealnya mendapatkan lebih banyak benefit dibandingkan karyawan biasa. Sehingga karyawan talent ini memang “dibedakan” dan mereka sadar bahwa mereka diretensi oleh perusahaan.

Karyawan talent biasanya juga memiliki career path yang lebih jelas, sudah ditentukan kemana-kemana saja pengembangan selanjutnya. Dan untuk menuju jenjang karir lanjutan, pengembangan apa yang diperlukan oleh karyawan talent tersebut. Dan begitu banyak lagi seharusnya-seharusnya yang membuat karyawan talent ini menjadi “Mesin Utama” perusahaan.

Karyawan Talent umumnya memiliki Visi yang sama dengan Top Management. Memiliki pengabdian luar biasa, dan kontribusi yang tidak sedikit, bahkan turut mengembangkan dan memberikan perusahaan positif kepada organisasi. Karyawan talent kelak merupakan generasi penerus pemimpin perusahaan.

[B]Penyebab[/B]

Lantas apa yang jadi penyebab karyawan talent pergi dari perusahaan yang telah mengembangkannya, mendidik, serta memberikan kesempatan selama ini?

1. Karyawan Talent tidak lagi merasa diperhatikan secara komprehensif. Tepukan di pundak, pujian dari manajemen kadang tidaklah cukup. Seperti yang disampaikan sebelumnya, apakah pembeda karyawan talent dengan karyawan lain.

2. Perusahaan tidak bisa mengharapkan keterbukaan dari seorang karyawan talent. Karena justru perusahaan lah yang harus mendekatkan diri dengan karyawan talent. Menanyakan mengenai kepuasan, aspirasi yang mungkin hingga saat ini belum tercapai. Tapi ini harus dilakukan secara sistem, bukan individu / atau melalui obrolan ringan semata.

3. Perlakuan yang kurang adil. Rejeki memang sudah ada yang mengatur, dan seringkali kita merasa bahwa promosi adalah keberuntungan / rejeki orang lain. Kitapun melakukan introspeksi untuk melihat kekurangan. Nah kesalahan perusahaan dari aspek ini adalah, pernahkah ketika ada posisi kosong ditawarkan kepada karyawan talent. Siapa tau ada minat sehingga peluang tersebut bisa ditangkap dengan baik.

[B]Hal yang perlu mendapatkan perhatian[/B]

Pada dasarnya manajemen terhadap karyawan talent ini perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius. Seringkali karyawan talent keluar dari perusahaan tidak berakhir dengan baik. Yang muncul adalah hujatan, kekecawaan, bahkan pemojokan. Yang disalahkan adalah karyawan talent tersebut.

Yang perlu perusahaan ketahui mengenai kesalahan karyawan adalah jika terkait: kerugian bagi perusahaan, kinerja yang buruk, koordinasi tim yang tidak baik karena faktor leadership. sementara karyawan resign bukanlah merupakan kesalahan.

Kerja tidak seperti pernikahan yang memiliki komitmen reliji yang suci. Orang datang dan pergi dengan cara yang baik. Kenapa karyawan talent pergi, maka waktunya bagi perusahaan untuk instrospeksi kembali atas sistem mereka dan bagaimana mereka memperlakukan kepada karyawan talent.

Karyawan talent pergi umumnya bisa menyebabkan perusahaan malu, ataupun para manajemen malu. Karena akan dianggap mereka tidak mampu mempertahankan karyawan terbaiknya. Kekecewaan yang muncul lebih merupakan gengsi ketimbang rasa kehilangan. Sehingga langkah yang diambil adalah upaya untuk menjatuhkan karyawan talent tersebut, dan ketika ini terjadi maka justru semakin membuktikan sistem manajemen yang asli dari perusahaan tersebut.

[B]Bagaimana mengelola Karyawan Talent?[/B]

Mengurus atau mengelola karyawan talent sangat berat, dan membutuhkan perhatian ekstra serius. Karyawan talent seharusnya merupakan agenda strategis perusahaan, dan bukan merupakan bagian kecil dari departemen Human Resource.

Karyawan talent berdiri sejajar dengan para Pelanggan Perusahaan dan juga Shareholder. Mereka adalah aset dan motor penggerak perusahaan, sehingga sudah sewajarnya memiliki sistem yang lebih serius untuk menangani karyawan talent.

[B]Kesimpulan[/B]
Kehilangan karyawan talent adalah suatu aib dan juga kekecewaan besar bagi perusahaan. Namun karyawan yang pergi sama sekali tidak bisa disalahkan kecuali mereka membuat kerugian finansial, berkinerja buruk, ataupun tidak mampu mengelola organisasi.

Yang terbaik adalah membiarkan semua proses dengan bijaksana, tidak perlu menjadikan personal / pribadi. Karena perjalanan karir manusia masih panjang, dan masih ada kemungkinan untuk kembali menjalin kerjasama di waktu mendatang.

Advertisements