Indonesia merupakan pasar ritel yang sangat besar, pertumbuhannya pun luar biasa. Tanpa perlu melihat angka, kita bisa melihat pertumbuhan mini market seperti Indomaret, alfamart, alfa midi, alfa express, dan sekarang yang baru di Jakarta adalah Seven eleven. Suka atau tidak kita harus mengakui bahwa Indonesia memang pasar yang menarik bagi para peritel. Itu sebabnya peluang usaha ritel kian digandrungi, tidak hanya terkait dengan kebutuhan sehari-hari tapi segela keperluan memiliki peluang untuk tumbuh.

Apotek adalah ritel yang sangat spesifik, fokus pada penyediaan obat baik yang melalui resep (Ethical) maupun bebas (OTC). Berbeda dengan peritel lain, apotek lebih memiliki banyak aturan untuk dapat beroperasi. Sehingga ini yang membuat orang kadang enggan untuk masuk ke dunia farmasi. Memang yang dijual adalah Obat, tidak boleh sembarangan, karena dengan penanganan yang salah dapat mengakibatkan penyimpangan yang sangat fatal. Sebut saja untuk kategori psikotropika, narkotik. Belum lagi efek samping dari produk yang tidak disimpan dengan benar, misalnya kadaluarsa ataupun produknya rusak.

Mungkin sebagian orang akan bertanya-tanya, darimanakah sumber pendapatan sebuah apotek. Apalagi jika beli obat flu sudah bisa ke warung. Jikapun sakit masyarakat bisa ke Rumah Sakit kemudian menggunakan asuransi, sehingga obatnya pun di tebus di Rumah Sakit. Tapi dilain sisi banyak Apotek Franchise yang bermunculan, seperti Century, K24, Kimia Farma, dan sebagainya. Benarkah bisnis Apotek ini akan masih menguntungkan, melihat tingkat keramaiannya tidak seperti mini market ataupun ritel garmen.

Untuk saat ini, Apotek masih banyak mengandalkan golongan obat seperti: Antibiotik, Anti Hipertensi, Anti Kolesterol, Anti Diabetes. Apakah itu?

Untuk antibiotik, dokter biasanya paling umum meresepkan antibiotik untuk pasien yang mengalami radang, atau gejala infeksi. dengan rentang yang cukup luas, maka penyediaan antibiotik menjadi sangat wajib di tiap Apotek.

Kedua untuk anti Hipertensi, ini biasanya untuk pasar 40 tahun ke atas yang sudah di diagnosa mengalami darah tinggi hingga yang berpotensi pada sakit Jantung. Penderitanya cukup banyak ternyata, apalagi dengan beban kerja seperti saat ini membuat sebagian orang menjadi lebih mudah stress. Memang spesifik, tapi penjualan obat kategori anti hipertensi saat ini merupakan sumber pendapatan yang besar bagi Apotek. Maklum saja, harganya yang mahal sehingga secara absolut marjin keuntungannya juga besar.

Demikian pula untuk anti kolesterol, usia 20an saja sudah mulai concern. Obat-obat ini cenderung dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kadar LDL. Keuntungannya juga tidak sedikit terutama obat paten dan yang terbukti ampuh.

Terakhir anti Diabetes juga sama, bahkan diabetes merupakan pangkal dari segala komplikasi penyakit.

Artinya dari sisi kebutuhan memang terlihat masih ada peluang hingga kapanpun. Bahkan bisa dibilang tidak kenal krisis, orang sakit ya sakit, pasti jadi kebutuhan utama.

Tantangannya adalah keberadaan asuransi kesehatan yang belum menjangkau apotek. Masih fokusnya asuransi di Rumah Sakit menyebabkan pertumbuhan apotek menjadi lambat. Sementara Rumah Sakit semakin menikmati pertumbuhan yang agresif. Konsumen juga lebih diuntungkan. Dengan membayar premi, sebuah keluarga tidak perlu musing menghadapi resiko biaya kesehatan di kemudian hari.

Pihak asuransi seharusnya perlu melihat meluang di pasar Apotek ketimbang Rumah Sakit, perlu dipikirkan model bisnisnya seperti apa. Karena apotek sedikit yang memiliki dokter praktek. Sehingga bagaimana asuransi dapat mengidentifikasi ataupun memvalidasi kebutuhan belanja obat dari para nasabahnya.

Kesimpulan, tidak ada kata terlambat untuk memulai ataupun mempertimbangkan perlu tidaknya masuk ke dalam dunia Apotek. Memang perlu kesabaran, tapi layaknya semua industri, jika kita jeli melihat peluang maka Apotek bisa bertumbuh dengan pesat. Contohnya: (1) melakukan kerjasama dengan institusi / perusahaan / pabrik untuk pengadaan obat, (2) berpartisipasi dalam komunitas sekitar sehingga bisa menjadi referensi bagi komunitas sosial. (3) Jeli melihat pasar klinik yang tidak memiliki Apotek, dengan menjadi mitra maka pasien klinik tersebut bisa diarahkan untuk mendapatkan obat dari apotek.

Advertisements