Cloud Computing

Setelah sebelumnya istilah “virtual” marak digunakan oleh praktisi-praktisi teknologi selama satu dekade sebelumnya, kini istilah “cloud computing” kian sering terdengar di telinga kita saat ini, seiring dengan semakin majunya infrastruktur di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Salah satu contohnya adalah produk Google yakni Google Docs, yang mengizinkan pengguna untuk mengelola dokumen Word tanpa harus menggunakan aplikasi Microsoft Word maupun OpenOffice di komputer yang digunakannya sekarang, namun cukup bermodalkan koneksi internet yang memadai saja untuk mengakses situs Google Docs tersebut.

Koneksi Internet yang Memadai = Mahal

Memang salah satu kendala yang masih dihadapi oleh masyarakat kita di Indonesia adalah terkait kualitas jaringan internet, yang masih terbilang mahal jika ingin mendapatkan tontonan HD (High Definition) melalui YouTube. Bukan karena pilihannya yang sedikit, karena justru sebaliknya masyarakat memiliki beragam variasi seperti layanan kabel serat optik, DSL, paket data seluler baik 3G maupun EVDO, yang sudah cukup memuaskan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk mendapatkan akses berita, jejaring sosial, permainan online, video streaming, maupun download bermacam jenis file. Tapi apakah koneksi ini cukup untuk beralih ke dunia cloud? Sebutlah untuk urusan penyimpanan data, apakah kita sudah nyaman untuk menaruh file-file pekerjaan atau kegiatan sehari-hari di layanan cloud-storage seperti Dropbox? Mungkin untuk file berukuran kecil masih ok, tapi bagaimana jika ukurannya 10MB keatas? Hmm.. saya sendiri mendapati sering gagal melakukan synchronisasi untuk beberapa file berukuran besar, dan harus mengulang kembali proses tersebut. Apa sih menyebabkan permasalahan ini.

Ujung-ujungnya duit (UUD), kalau mau bayar mahal, 1 juta rupiah per bulan, hidup di awan dijamin sejahtera aman sentosa. Terlepas dari itu memang ujung-ujungnya bandwidth (UUB). Lalu lintas nasional melalui IIX (Indonesia Internet Exchance) bisa dibilang bebas hambatan, tapi akses ke luar Indonesia, itu inti permasalahannya. Aplikasi web seperti Google Docs akan sulit untuk sukses di Indonesia karena harus akses server awan di luar negri. Tapi webhosting sederhana yang diselenggarakan perusahaan lokal, mungkin lebih laku jika dimanfaatkan untuk sarana cloud. Maka buat apa bersusah payah menggunakan layanan dari luar negeri, jika keperluannya adalah dalam negeri? Ini yang harus dipertimbangkan dalam rencana bisnis.

Republik di Awan

Barangkali di masa mendatang dengan adanya teknologi jaringan yang lebih baru dan terjangkau, maka bisa jadi setiap orang tidak lagi memerlukan media penyimpan sendiri, bahkan tidak perlu memiliki sistem masing-masing, karena semua dapat disediakan melalui sistem terpusat. Bayangkan saja, dari sisi komunikasi dan sosial sudah cukup menjamur setiap netizen meng-upload foto, video, dan lain-lain. Mengapa tidak berikutnya adalah file dokumen untuk kerja bareng?  Atau bahkan kedepannya semua tata pemerintahan dapat diakses di awan. Mari wujudkan internet untuk semua, technology inclusion!

Advertisements