Ketika akses internet mulai populer

Sebelumnya saya sempat menulis tentang negeri di awan, alias cloud computing sekitar tujuh tahun lalu, yang saat itu bisa dibayangkan masih belum banyak orang yang familiar dengan hape android, apalagi istilah internet of things. Wajar saja, teknologi 4G/LTE di Indonesia baru populer di sekitaran tahun 2014, yang memang pada umumnya kalau teknologinya naik satu tingkat, biasanya masyarakatnya pun juga ikut satu tingkat terangkat.

Sekarang hampir setiap orang mengerti internet, paham betul istilah-istilah seputar medsos, fesbuk, IG, wifi, paket data. Asisten rumah tangga saya pun saya pegangi hape android, bahkan saya ajari aplikasi WhatsApp, agar komunikasi murah dan lancar, termasuk dalam bersilaturahmi dengan kerabatnya. Siapa senang? semua senang, operator senang, masyarakat pun tak keberatan sejauh ini. Belum lagi broadband mulai menjadi standar di rumah-rumah baru, dan perumahan lama juga tentunya, tetapi juga tidak terbatas pada satu alternatif, karena modem portable juga masih menjadi pilihan.

Trend apps, alias aplikasi online via gadget

Cukup disana saja bahasan infrastrukturnya, intinya cukup mumpuni. Kemudian bagaimana perkembangan dari sisi aplikasinya? Ternyata, banyak berkembang juga. Siapa sangka aplikasi ojek online bisa menjadi suatu alternatif transportasi yang digandrungi masyarakat ibukota? Tidak berhenti disana, didukung juga trend meningkat pada demand pelanggan yang gembira dilayani dengan antaran makanan dan barang, terintegrasi dengan aplikasi ojek online tersebut! Toko-toko pun wajib masuk dalam pasar online dengan kemudahan akses pembayaran digital dan juga makin terjangkaunya layanan ekspedisi di tanah air. Ke depan juga akan lebih efisien dengan Gerbang Pembayarana Nasional (GPN). Ini yang disebut semesta Indonesia mendukung!

Cloud city of today

Lalu apalagi artinya negeri di awan? Ternyata masyarakat sudah tidak lagi dipusingkan dengan istilah-istilah atau konsep sistem yang ngejlimet. Lebih penting adalah layanannya itu apa, maka itulah yang dikomunikasikan. Sederhana saja, daripada kita ributkan definisi yang benar mengenai toko online, masyarakat lebih peduli soal gampangnya belanja online, yang sekarang ini via aplikasi terdapat ragam pilihan tinggal search dan browsing, kemudian pembayar bisa secara elektronik, pengiriman bisa instan via ojek online, penerimaan barang masih bisa komplain kalau salah, semuanya adalah sistem yang terintegrasi saling tekoneksi. Jangan ributkan soal cloud computing, karena kita sudah berada di cloud, maka bisa ngapain aja di cloud ini?

Saya cerita sedikit tentang Taloraan, bagi penggemar Star Wars pastinya tidak akan asing dengan kota yang berada di atas awan ini. Ternyata, sebab kenapa mereka membangun negeri di awan adalah karena mereka tidak punya tanah. Planet yang dihuni tersebut tidak lain hanyalah kumpulan gas yang kebetulan cukup berguna bagi kepentingan mereka.

taloraan
Cloud City of Taloraan

Dalam konsep ini, pelaku bisnis tidak harus memiliki hardware (tanah), tapi yang penting adalah layanan storage untuk kebutuhan sistem mereka. Meskipun juga sistem pun tidak harus membeli-putus tetapi bisa juga dengan mekanisme sewa, dan ini menjadi bisnis juga bagi para provider layanan bisnis cloud seperti shared server, office applications, project management, sales management, customer relationship management, hingga sistem akuntansi, dan lain sebagainya. Tapi saya yakin saat ini dalam ranah bisnis kita masih wanti-wanti soal privacy. Tidak apa, buatlah negeri di awan sendiri!

Bagaikan ruh keluar dari jasadnya?

Sesuatu yang saya bayangkan dari negeri di awan ialah ketika kita bisa terbebas dari mindset menapak di tanah. Di atas tanah, kita tidak bisa bebas bergerak, misalnya berkendaraan pun akan terbatasi oleh ketersediaan ruas jalan. Keterbatasan tersebut membuahkan harga-harga yang mahal, kemacetan lalu lintas, hangusnya waktu yang berharga. Sedangkan di atas awan yang lebih luas dari daratan, sejatinya kita lebih terbebas terbang kesana-kemari, jauh lebih cepat menuju sebuah tujuan. Inilah yang saya maksud ketika kita beraktivitas melalui internet.

Saya bayangkan di masa mendatang ketika karyawan tidak lagi perlu datang secara fisik ke kantor, karena bangunan kantor beserta infrastrukturnya, tidaklah perlu ‘menapak ke tanah’. Sekarang pun faktanya saya sudah mulai sering juga bekerja dari rumah dan tidak menjumpai banyak masalah untuk memberes banyak hal. Saya teringat juga sepuluh tahun lalu merupakan awal saya melakukan remote access untuk kebutuhan pekerjaan. Meeting pun sebenarnya cukup con-call saja, hal yang sama dengan peserta meeting dari luar negeri. Sehingga kemudian akan ada lebih banyak waktu bersama keluarga, istri dan anak, yang dengan lingkungan yang baik, masa depan negeri ini akan lebih baik.

Masih jaman kah?

Saya nggak tau, masih jaman kah seorang lulusan perguruan tinggi mengidam-idamkan bekerja di kantor, pakai dasi, bermacet-macetan, berjumpa orang-orang yang berdandan, kesempatan main mata, arisan dengan kawan-kawan, update status sosial tentang kesuksesan? Mana yang sebenarnya tujuan utama bekerja, menafkahi keluarga atau mengejar hal-hal semacam ini? Kembali lagi ke realita, maka memang begitulah hidup. Tapi baiknya jangan lah menunggu sampai puncak chaos baru kemudian reset dari awal lagi. Maka menurut saya, kembali pada kebijkasanaan dari para pimpinan organisasi untuk memulai konsep negeri di awan yang ketika mengambil langkah ini memang menggugurkan pride dari hal-hal yang saya sebutkan tadi. Kalau saya bilang sih tidak usah ragu, karena bekerja itu bukanlah tujuan hidup, tetapi kebahagiaan sejati lah yang sepatutnya didapatkan dari setiap langkah gerak manusia.

Lucunya, saya pernah tahu seorang teman sekolah yang dulunya badung, suka tawuran, selalu sedia ‘peralatan tempur’ di bagasi mobilnya. Siapa sangka setelah lulus sekolah, aktif di organisasi, dia sekarang jadi aktivis anti-bullying. Sudah pasti ketika teman-temannya mengetahui hal ini, maka dia jadi di-bully dahulu, tapi tidak lama hingga teman-temannya menyerah dan pada saatnya juga akan sadar bahwa hal yang buruk tak layak dibudayakan. Jadi menurut saya segala sesuatu sangatlah mudah berubah, dan biasanya ke arah yang lebih baik. Misalnya kita bilang perubahan jaman, maka biasanya perubahan yang dimaksud adalah dari jaman batu, jaman bar-bar, ke jaman modern yang lebih beradab.

Kesimpulannya

Engga, ini saya menulis setelah tujuh tahun lalu mengenai teknologi cloud, yang sekarang bila dikatakan telah berkembang ya masih setengah jalan, setengah hati juga. Ide e-KTP itu bagus, tapi ternyata masyarakat banyak juga yang risih karena khawatir informasi pribadi mudah tersebar ke masyarakat luas, terlebih ketika terkoneksikan dengan sistem pajak dan layanan publik lainnya, atau bahkan ke informasi rekening di bank. Hasilnya, e-KTP sekedar duduk jadi KTP pada umumnya, chip-nya buat apa? Risihnya orang ketika data FB bocor, big data bocor, memangnya kenapa? Apa takut ketahuan ada perbuatan tercela diketahui orang? Penolakan-penolakan ini yang barangkali harapan akan negeri di awan terhempas, lebih buruk justru terseret masuk ke bawah, menjadi negeri underground, dimana orang bebas melakukan hal-hal tak terpuji. Mari berharap tidak terjadi demikian, karena apalah jadinya generasi mendatang jika hidup dalam kegelapan.

Semoga tidak lama dari saya menulis ini, akan tiba jamannya kita tidak lagi direpotkan dengan berpanas-panasan di jalan, berebut parkir kendaraan, bersikut-sikutan dalam pekerjaan, was-was dengan rayuan syahwat orang berdandan, menuruti kemauan atasan yang berlawan dari hati nurani maupun hukum, pertemuan yang sekedar membakar uang, dan sebagainya yang kalau dipikir-pikir kembali lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Mudah-mudahan berkembangnya teknologi justru semakin mendekatkan kita menjadi perbadi yang beriman, dan berguna untuk kemanusiaan.

Advertisements