adult african african american afro
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Hobi setiap orang pastinya berbeda dan bermacam-macam. Tapi kalau diperhatikan, setidaknya 5 kelompok saja yang punya potensi bikin perekonomian goyang, apa saja ya?

Peringkat 5: Otomotif

Pastilah dompet tipis, bagi sebagian orang perlu nabung lama jika ingin menjadikan ini sebagai hobi. Belum lagi modifikasi dan lain sebagainya, kadang perlu impor pula, dan pengurusan dengan bea-cukai jangan lupa. Maka bisa disepakati, ini hobi perlu duit banyak. Potensi yang lebih besar dibandingkan hobi binatang piaraan yang lebih klasik lagi.

Peringkat 4: Gadget

Sebenarnya sudah ada kata bakunya yaitu ‘gawai’, tapi saya masih khawatir belum banyak yang paham, jadi kita campur saja gawai dan gadget, yang jelas tidak lagi perlu disebut getjet. Belum lagi variannya, kamera (terlepas dari hobi fotografinya), drone, balance-wheel, dan sebagainya yang seiring perkembangan teknologi maka makin ada-ada saja.

Pada dekade yang lalu, membeli gadget melalui e-commerce itu mikir-mikir, kalau tidak sampai bagaimana, kalau rusak pada saat pengiriman bagaimana, kalau penipuan bagaimana? Lain ceritanya sekarang, sudah pede saja orang pesan via e-commerce untuk mendapatkan hape baru, tablet, atau bahkan komputer pun berani. Lebih uniknya, kadang belinya bukan dari e-commerce lokal, banyak juga yang nekat pesan dari negara asal produsennya. Demi mendapatkan yang paling mutakhir. Sama seperti dulu ada teori skim-pricing yang muncul karena ada kelompok konsumen yang rela membeli dengan harga lebih untuk produk terkini yang baru rilis. Peluang ini pun masih dilirik hingga sekarang dengan adanya konsep pre-order.

Peringkat 3: Fesyen

Bukan hanya wanita, tetapi pria saat ini juga mulai berani tampil, terutama dengan semakin deras masuknya tren dari manca negara, sebutlah Korea dan Perancis. Selebritas yang digandrungi pun sudah lepas batas, tak ada barrier lagi bagi seseorang untuk menjadi fans artis di ujung benua sekalipun. Sampai sekarang, selebritas merupakan kunci endorser barang-barang dan juga jasa yang bila dipakai, fans-nya bisa dipastikan mati-matian mencarinya.

Kantong tipis bukan karena merk-merk tas atau jam tangan tertentu yang mahalnya minta ampun, tapi justru karena beragamnya benda-benda tadi yang bisa dibeli dengan semakin mudahnya untuk order via e-commerce maupun akses ke berbagai reseller yang aktif di Instagram. Jasa pengiriman pun semakin ketat bersaing dan harga dan kecepatan. Bisa di-track dan ada opsi jaminan pula. Konsumen diuntungkan?

Peringkat 2: Plesiran

Aneh? Ketahuilah bahwa begini lah tren jaman sekarang. Karena digabung antara hobi makan dan liburan. Ujung-ujungnya sama, foto Instagram. Makanan difoto di-vlog, situs keren pun pastinya difoto di-vlog. Pesannya pun mudah, banyak apps untuk pesan voucher hotel, pesawat, bahkan restoran dan spot-spot hiburan . Malas bergerak pun tetap bisa order makan dengan mudah.

Peringkat 1: Olahraga

Kelompok ini paling klasik, meskipun sepertinya tak jarang ditemui orang yang malas berolahraga, tetapi ternyata cukup banyak juga yang memposisikan olahraga lebih dari sekedar membuat badan sehat dan bugar. Apabila sudah menjadi hobi, apa saja akan tercurahkan disini, sebutlah sepeda, running, yoga, fitness, golf. Sepertinya masih biasa saja ya, lalu apa yang membuat kelompok ini menjadi teratas potensinya terhadap perekonomian? Jawabannya adalah e-sport, yang anggotanya termasuk orang-orang yang malas bergerak, biar otak saja yang bekerja. Pehobi e-sport tentunya akan rela merogoh kocek untuk upgrade gadget-nya, dan tidak sungkan-sungkan melakukan in-app purchase untuk mendukung hobinya tersebut. Bisa jadi receh, tapi hampir seluruh umat yang terjerat, coba saja hitung sendiri. Tetap tidak setuju? Silahkan digeser ke nomor 4, tetapi di atas otomotif lah.

Kesimpulannya, di masa sekarang yang dilihat bukan lagi hanya karena suatu barang harganya mahal, toh kalau yang membeli cuma orang itu-itu saja maka market-nya juga itu-itu saja. Multipliers itu justru kuncinya, receh tapi banyak. Maka sekarang, di perkembangan teknologi yang saat ini, dengan adanya keterbukaan akses terhadap keragaman, maka sesuai sifat manusia suka mengoleksi, semuanya pasti mau dibeli. Dan bila harganya murah, maka semakin banyak orang yang mampu beli dan mengoleksinya. Kan lucu ya, Pokemon yang berbentuk AR/digital saja orang bela-belain untuk nangkepin semuanya, sesuai motonya: ‘Gotta catch-em all!’. Dan naudzubillah, jangan sampai perekonomian diri sendiri goyang duluan.

Advertisements