welcome cashback society
sebuah komentar dari bankir di grup WA

Baru-baru ini, diberitakan bahwa jumlah transaksi melalui OVO dan GoPay sudah jauh melebihi jumlah transaksi e-Money yang telah berdiri selama lebih dari 10 tahun. Dalam hal ini perbankan disebut kalah oleh BI, benarkah?

Tentu saja kemudian banyak bankir mengutarakan argumennya, pertama terkait regulasi, yang cenderung berat sebelah. Artinya untuk perbankan, cukup banyak persyaratan yang harus ditempuh dalam perjalanan implementasi uang elektronik ini. Padahal awalnya cita-cita cash-less society dititipkan ke industri perbankan, kemudian sempat dispute dengan industri telekomunikasi. Maka sejak saat itu pun sebagai win-win, akhirnya ditetapkan pelaku bisnis dapat berasal dari industri perbankan dan non-bank. Mengenai regulasi perbankan yang lumayan banyak dan macam-macam, sepertinya tidak akan selesai dalam satu dua paragraf, tapi untuk gambaran saya sebut saja ‘ketat’.

Kemudian yang kedua, terkait sumber dana, yang mana dalam perbankan itu sebagian besar dana yang digunakan selain dari pemegang saham adalah dana masyarakat, atau istilahnya adalah pihak ketiga. Antara dana yang ditempatkan oleh masyarakat, dan dana yang disalurkan ke masyarakat, terdapat celah marjin, yang dari sini bank bisa hidup. Dari marjin ini pula kemudian bisa dialokasikan untuk promosi, dengan tujuan umum pemasaran, yaitu agar dapat menarik lebih banyak nasabah untuk menempatkan dana di bank tersebut. Hal ini karena dari sisi penyaluran dana, secara organik maupun anorganik, bank akan selalu berupaya memperluas cakupan atau jangkauan ke nasabah yang memerlukan pembiayaan. Termasuk pengembangan teknologi, tentunya memerlukan modal.

Sedangkan sumber dana fintech pada umumnya, mulai dari start-up, bahkan bagi yang telah menjadi unicorn sekalipun, pada umumnya (lagi) masih memperoleh kucuran dana promosi dari investor yang ‘berbaik hati’. Seringkali pengamat menyebutnya sebagai aktivitas investor ‘bakar uang’, demi memperoleh banyak manfaat dimasa mendatang, utamanya ‘big data‘. Maka salah satu bentuk yang semakin populer saat ini adalah dalam bentuk promo ‘cash-back‘.

Terakhir, banyak bankir memandang ini sebagai suatu aktivitas disruptif. Tak jauh berbeda dengan kemunculan skema Ponzi, MLM, bit-coin (masih diperdebatkan), yang sebenarnya ada celah-celah ketidaksempurnaan sistem kapitalis yang tercermin dalam sistem perbankan. Tidak lain disebabkan sisi lain kemilau perbankan yang senantiasa mengundang fenomena-fenomena yang disruptif di masyarakat. Tak heran sejak awal banyak masyarakat yang selalu memandang buruk keberadaan bank, seperti sosok yang menjerumuskan namun berkedok pewujud impian. Dan tak heran bila generasi muda sekarang memandang bank bukan sesuatu yang keren. Karena telah tiba jaman perbankan yang esensial, yang tidak lagi memerlukan wujud fisik bank.

cashback ovo
Thanks to OVO and GoPay, I don’t need to carry bank notes lately. Which means, I rarely go to ATM to withdraw money, so efficient, so neat. Am I part of cash-less society?

Kaki saya dimana? apakah di pihak perbankan ataukah di pihak fintech?

Kalau boleh win-win, saya dukung keduanya. Sebagai pencerahan saja, perbankan yang ‘old’ itu pastinya lebih kokoh dari sisi risiko, thanks to segala regulasi yang terus diperketat. Sedangkan fintech yang kekinian itu, yang ‘jalanin dulu aja‘ itu, perlu diakui keberaniannya dan patut kita berterima kasih atas teraktivasinya masyarakat kita ke era cash-less society, bahkan lebih dari itu, cash-back society. Barangkali dari masing-masing bisa mencerahkan kehidupan bangsa, saling mengingatkan dengan penuh kesabaran, maka semakin kokoh cita-cita kesejahteraan dengan ekosistem keuangan modern.

Tips, terkait pandangan aspek syariah

Tabungan bank, ada bunga kalau di bank konvensional, ada imbalan atau bonus kalau di bank syariah. Di uang elektronik, tidak ada bunga, imbalan sebangsa itu, tapi promonya dalam bentuk diskon, cash-back, mirip-mirip promonya kartu kredit (wah, ini ada bahasan lain lagi sebenarnya, terutama kemunculan Apple-card, tapi mohon maaf tidak sekarang saya bahas).

Sebagian muslim tentunya ada yang menerima uang elektronik sebagai prinsip wadiah (titipan), tapi ada sebagian lain yang menganggapnya qard (utang). Letak permasalahannya ketika duduk sebagai qard, maka aneka promo baik dari bank maupun non-bank, seperti misalnya pemberian bonus, hadiah, maupun cash-back kepada nasabah, akan menjadi riba. Tapi di sinilah diuji iman, derajat ketaqwaan, keyakinan dan pemahaman tiap muslim yang berbeda-beda. Apabila khawatir, atau secara logika skema tersebut mengarah ke qard, maka baiknya memang segera tinggalkan penggunaannya secara saat ini rata-rata selalu aktif promo cash-back di uang elektronik tersebut. Adapun yang meyakini itu sebagai wadiah, silahkan bergabung dalam cash-back society.

Win-win saya? Di bank, biasanya ada pos yang menampung dana pemasukan yang berasal dari sumber-sumber non-halal, misalnya bunga dari penempatan nostro di bank lain (untuk berbagai keperluan operasional), atau juga dari denda keterlambatan pembayaran nasabah pembiayaan (efek jera). Saldo ini kemudian disalurkan ke bermacam-macam hal di luar bank. Misalnya perbaikan jalan, sarana-sarana umum, dan lain-lain, pokoknya tidak ‘dimakan’ oleh bank. Maka kita pun bisa juga berbuat demikian, misalnya menerima cash-back atau apa lah, bisa saja dijadikan dana kebajikan tadi.

Atau ada juga yang bonus-bonus tadi dia kembalikan ke bank. Ada nasabah yang membuat peryataan/atau permintaan sebenarnya, kepada kepala cabang sebuah bank supaya rekening dia tidak diberikan bunga atau semacamnya, sekalipun bank sebenarnya telah menyebutkan akad-nya wadiah yad dhamanah (titipan yang bisa dipergunakan bank, tapi tidak boleh berkurang nilainya). Kemudian ada lagi teman saya kalau bertransaksi GoPay, dia lihat dulu harganya, kalau berubah disebabkan promo GoPay, maka selisihnya tersebut dia berikan ke driver-nya. Wallahu a’lam bishowab.