Search

XLN World

Passion for Improvement

Category

Channel Management

Dalam 5 tahun semua industri akan mengarah pada bisnis 24/7


Jika anda perhatikan dalam 10 tahun terakhir, dalam masyarakat kita mulai terjadi pergeseran perilaku dan juga gaya hidup. Banyak penemuan-penemuan fenomenal yang mengubah cara hidup sehari-hari. Mulai dari telpon genggam, akses sosial media, media kerja digital portable, akses wifi, high speed internet akses, online shopping, video streaming, dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri teknologi begitu memanjakan konsumen atau lebih tepatnya memudahkan konsumen dan sebenarnya mendorong masyarakat untuk makin produktif.

10 tahun terakhir ini juga era dimana perusahaan-perusahaan semakin berlomba dalam hal kualitas layanan serta inovasi bisnis. Sehingga muncul asosiasi merek yang makin kuat.

Dengan adanya kemudahan teknologi sebenarnya tinggal masalah waktu untuk membangunkan kita semua bahwa manusia bisa merubah perilaku kehidupan sehari-hari. Selama ini manusia dipenuhi dengan naluri untuk beraktivitas di siang hari, dan istirahat tidur di malam hari. Hal tersebut terjadi karena selama ini belum ada alat bantu yang produktif untuk membuat manusia beraktivitas di malam hari. Pertimbangannya, aktivitas di malam hari memakan biaya yang lebih tinggi mungkin karena gelap membutuhkan pencahayaan yang lebih tinggi. Namun alasan yang paling dominan adalah mengenai kewajaran pola hidup, siang untuk kerja dan malam untuk istirahat.

Teknologi akan menyadarkan bahwa perilaku tersebut bisa dirubah. Jika selama ini kehidupan malam selalu didominasi dengan persepsi negatif, maka kedepannya tidak menutup kemungkinan untuk didominasi aktivitas positif. Selama ini dunia malam identik dengan pergaulan bebas, kehidupan di club, dan penuh pesta. Namun bagi industri tertentu, roda bisnis terus berjalan misalnya untuk memenuhi kebutuhan produksi yang sedang tinggi. Peluang-peluang mengenai dunia malam sudah banyak dibidik oleh industri konsumen terutama makanan yang pertama menawarkan konsep 24/7 dengan kata lain tidak pernah tutup atau selalu buka.

Kemudian jam industri makanan ini mulai dicoba oleh industri retail dengan menjual promo midnite sale, bahkan mungkin saja yang sudah memulai konsep 24/7. Karena retail-retail kecil sudah banyak yang memulai konsep 24/7. Hal ini jelas menunjukkan waktu peluang mengenai aktivitas dunia malam makin tinggi. Dan masyarakat sudah mulai perlahan bergeser waktu aktifnya.

Jika kita percaya dengan prinsip waktu adalah uang, maka waktu malam yang berjumlah 50% dari total waktu sehari merupakan peluang bisnis dua kali lipat. Sehingga dengan memanfaatkan waktu tersebut, banyak pekerjaan yang mungkin saja bisa diselesaikan lebih cepat dan tentunya lebih produktif.

Anda bisa mulai membayangkan orang-orang ada yang mulai berangkat kerja kantoran jam 3 – 4 sore untuk mulai shift II yaitu jam 5, dan ada yang akan datang juga pada jam 12 malam untuk memulai shift III. Dan shift II, III ini bukan lagi monopoli industri konsumen (belanja) saja tapi juga industri perkantoran. Kita bisa menikmati layanan perbankan 24/7, dimana saat ini baru hari sabtu minggu saja. Bursa efek selalu aktif 24 jam, begitu pula dengan kantor pengacara, kantor pos, dan seluruh industri sangat terbuka peluang untuk aktif non-stop. Semua tinggal masalah pengaturan maintenance fasilitas yang saya yakin solusinya pun akan muncul seiring dengan terjadinya pergeseran waktu kerja ini.

Pergeseran ini saya prediksi akan makin cepat dalam waktu 5 tahun mendatang. Sebaiknya kitapun menjadi salah satu pionir yang mendobrak atau menjadi agen perubahan tersebut. Apakah ini merupakan dampak positif atau negatif? Bisa dua-duanya, tapi yang jelas populasi meningkat dan kita tahu penyebab keruwetan yang terjadi saat ini adalah karena semuanya menumpuk di waktu-waktu tertentu. Dan jika ada pergeseran waktu kerja, sangat mungkin ini bisa menjadi solusi produktivitas tidak hanya bagi perusahaan tapi juga bagi tiap individu di dunia ini.

Advertisements

Bedanya Sales Oriented dengan Business Oriented


Secara singkat saja… Sales oriented ini sudah menjadi karakter kebanyakan orang-orang yang bergerak di bidang sales. Result menjadi pemicu utama dalam bekerja. Kehebatan melakukan closing, mencapai pertumbuhan, dan bahkan mencapai target yang diberikan.

Namun demikian, nyatanya orang yang berjualan sekedar untuk mencapai target akan terus terasa hambar jika tidak disertai dengan “penjiwaan” terhadap bisnis. Dan dari sekian banyak orang yang memiliki orientasi terhadap penjualan, ternyata hanya 20% yang memiliki orientasi “Bisnis”. Apa bedanya?

  1. Sales oriented (SO) fokus pada pencapaian sasaran jangka pendek, apa yang harus dicapai hari ini, minggu ini, atau bulan ini. Sementara Business oriented (BO) lebih fokus pada penciptaan pasar untuk masa-masa mendatang. BO akan memikirkan akankah konsumen akan tetap loyal dalam waktu setahun mendatang.
  2. SO bergerak lebih cepat, agresif, dan terlihat pantang menyerah. BO terlihat lebih lama dalam mencapai hasil, namun sama-sama agresif dalam upaya pengembangan bisnis.
  3. SO lebih sibuk meyakinkan konsumen untuk melakukan pembelian. BO sibuk berbincang dengan konsumen mengenai apa yang mereka harapkan.
  4. SO fokus pada produk dan konsumen yang memberikan kontribusi besar, karena itu adalah cara paling aman untuk mencapai targetnya. BO lebih telaten melihat potensi tiap konsumen sekecil apapun namun dengan tetap membina hubungan yang intensif pula dengan konsumen besar.
  5. SO terjebak pada ketergantungan produk, pembeli, dan harga tertentu, karena sudah cenderung pada perilaku komoditi. BO sibuk melakukan edukasi, menyebar informasi, dan memberikan layanan nilai tambah, karena BO memahami nilai tambah akan lebih memberikan manfaat jangka panjang.

Dan mungkin masih ada lagi perbedaan lainnya, tapi kedua orang ini memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai hasil yang maksimal.

Affiliate Program


Istilah Affiliate Program ini sangat menarik, ini merupakan konsep bisnis layaknya MLM. Dan industri MLM memang tidak akan pernah berhenti untuk mengeluarkan inovasi-nya. Dengan cara yang sama, kini dibantu teknologi, namun produk yang selalu up-to-date.

Bagi sebagian orang, MLM pastinya akan terdengar risih ditelinga. Karena ujung-ujungnya sebagai member diharuskan untuk membayar sejumlah uang untuk mendapatkan materi panduan. Walau jumlahnya tidak besar juga antara 90 ribu – 200 ribu Rupiah, tergantung siapa Vendor-nya. Dan yang utama, sebagai member pastinya diharuskan menjual walaupun dengan title “Business Owner.

Uniknya, program afiliasi ini terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Dulu hanya dikenal untuk produk-produk kebutuhan rumah tangga, kemudian obat-obatan, ada juga yang berupa logam mulia atau emas. 5 tahun ini berkembang masuk bisnis pulsa, dan sekarang apapun produknya tidak masalah karena yang dijual adalah sistem-nya. Sehingga “Business Owner” tidak lagi terpaku pada satu produk, tapi bisa beragam produk.

Cari saja di google mengenai Affiliate Program, pasti banyak sekali. Dan selalu ada contoh-contoh sukses, yang memang benar-benar sukses. Ada yang mengajarkan memanfaatkan Adsense Google, atau menjual E-Book, bahkan hosting untuk membuat website bisnis.

Pandangan singkatnya, model pemasaran seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Network / Viral / Affiliate, apapun namanya konsep Socio seperti ini berhasil mencetak jutawan-jutawan bahkan milyarder baru.

Affiliate Program bukanlah penipuan, karena semuanya tergantung pada diri sendiri sebagai “Business Owner”. Upliner hanya sebagai pemandu dan juga membantu sebisanya bagi member-member yang serius ingin menggeluti bidang tersebut.

Sesuai dengan keinginan? Atau sekedar ingin coba-coba? Tidak ada salahnya, ini yang menjadi potensi untuk menghasilkan tumpukan uang. Apakah rugi? paling hanya keluar uang 200 ribu, dan bisa dianggap sebagai investasi untuk belajar. Sementara itu ada orang lain yang sudah mengeruk keuntungan dari upaya coba-coba tersebut, 😀

Aktivasi Modern vs. Traditional Store


Artikel ini tidak membahas perbedaan antara modern store dan traditional store secara fundamental, namun lebih kepada potensi pemasaran dalam bentuk aktivasi yang bisa dioptimalkan oleh para pemilik retailer kedepannya.

Modern store bukan sekedar proses bisnisnya yang modern, tapi juga menawarkan konsep optimalisasi marketing channel yang utuh. Aktivasi-aktivasi merek dilakukan secara sistem, sehingga ini yang membedakan dengan Traditional Store.

Kebanyakan traditional store sifatnya pasif, atau yang paling penting adalah tersedianya produk-produk yang dijual oleh distributor / supplier. Sementara Modern Store menyediakan kesempatan bagi supplier lebih dari itu, yaitu kesempatan untuk para pemilik merek untuk melakukan kegiatan promosi dengan biaya tertentu.

Modern store dengan kata lain memiliki value stream tidak hanya berasal dari penjualan produk, melainkan juga fee marketing yang ditawarkan kepada para pemilik merek.

Traditional Store tertentu sudah ada yang menerapkan konsep tersebut, namun masih sangat tergantung karakter individu dibelakangnya apakah pemilik maupun pengelolanya. Sehingga belum ter-sistem seperti halnya modern store.

Kenapa traditional store perlu mencoba konsep aktivasi merek seperti halnya modern store? Persepsi yang muncul bahwa traditional store lebih murah, kemudian cenderung lebih dekat dengan konsumen karena lebih banyak, kemudian karena yang jaga outlet biasanya sudah atau ada yang senior maka banyak konsumen yang merasa lebih nyaman dan bisa terjalin komunikasi.

Syarat mutlak bagi traditional store untuk mengikuti jejak langkah modern store dalam konteks ini antara lain:
• Memiliki pengunjung yang ramai.
• Sales counter yang dapat menawarkan dan menjalaskan produk dengan baik.

Biasanya Traditional store dalam menerapkan konsep ”memasarkan” diberikan dalam bentuk insentif yang diberikan pada periode tertentu. Sedangkan pada Modern store, biaya pemasaran seperti itu banyak dilakukan di depan.

Jika melihat jumlah Traditional Store yang jauh lebih banyak dibandingkan modern store, maka ini sebenarnya merupakan peluang baik bagi para pemilik merek maupun pengelola outlet itu sendiri untuk meningkatkan nilai bisnisnya.

Seperti pada pembahasan terdahulu, keputusan pembelian banyak terjadi di titik pembelian. Sesuai dengan perilaku masyarakat Indonesia yang cenderung ”impulsive”. Kesimpulannya aktivasi merek sudah waktunya merambah secara sistem di Traditional Store untuk menangkap peluang bisnis yang jauh lebih baik.

Win the heart of the Sales Counter


I’ve just visited pharmacy to buy vitamin, when I asked for CDR the sales counter then offered me Protecal. Since I used to consume CDR and also don’t really like the taste of protecal, I decided to choose CDR. I remembered that my company also do the same way to the sales counter, but why didn’t she offer me Stimuno?
Every brand I think perform the same strategy, give incentive to the sales counter. But when every product do that, then how can we ensure that our product is to be the first mentioned. Probably the higher incentives could take it all, but how high can you pay?
Logically, you should win their heart, but how. Some expert always say the importance of relationship, not just knowing their hobbies or talking business when we met. You must build emotional relationship, no matter how hard. But indeed there’s always something we must sacrify. It’s not about money, building relationship is a matter of time. Do it on the right time, quite frequent, and right objectives.
The key is, make your relationship greater than your competitors. Touch the emotional, show your respect, and think for long-term relationship. Don’t be pushy, be patient. In time you’ll harvest what you’ve sacrified. Off course you must select the right customers too. The more experience, the more success you can gain.

Sales Formula


There’s a simple formula to represent sales result.

Sales = Product x Place x Price x Promotion x People x Process x Physical Evidence

It’s just like 7P’s of Service Marketing. Therefore, make sure that you are not in Product-Place Analysis Trap. Because, there’s still another factors. Continue reading “Sales Formula”

Blog at WordPress.com.

Up ↑