Search

XLN World

Passion for Improvement

Category

Technology

System Thinking bagi para Konsultan


Bisnis berbasis mobile Apps bertumbuh luar biasa dalam 5 tahun terakhir, sejak diperkenalkannya Apps Store, PlayStore, dsb. Apps banyak merubah cara kita dalam menghasilkan sesuatu. Platform mobile saat ini sudah menjadi suatu ekosistem baru, lebih dekat dengan user, lebih mudah, dan lebih cepat. Continue reading “System Thinking bagi para Konsultan”

Advertisements

Penomoran Kode Produk


Kode Produk / Item Code / Product Number merupakan kode yang digunakan oleh pabrikan untuk mengidentifikasikan suatu unit produk yang unik. Kode Produk ini yang membedakan produk satu dengan yang lainnya, tidak hanya dari sisi deskripsi, fungsi, tapi juga varian warna, ukuran, rasa, dan sebagainya. Continue reading “Penomoran Kode Produk”

Apple, Kiblat Teknologi Saat Ini


Siapa yang membayangkan bahwa perusahaan ini akhirnya bisa menjadi trendsetter bagi dunia konsumer IT. 15 tahun lalu sebuah komputer Mac hanyalah sebuah desain unik dan kebanggaan para desainer grafis.

Kini apple adalah produk lifestyle, dan suka atau tidak hampir semua produsen IT menggunakan produk apple sebagai pembanding. Sebut saja mulai dari Window-based GUI pada sistem operasi, multi touch pada teknologi touch screen, appstore, iPod / iPad tablet. Semuanya berbondong-bondong mengklaim bahwa produknya secara spefisikasi teknis jauh lebih unggul.

Tapi so what dengan spesifikasi, karena bagi sebagian konsumen berduit kemudahan dan kecepatan aktual lebih penting. Macbook air juga merupakan trendsetter bagi kategori notebook kecil. mulai dari penggunaan SSD, desain tipis, dan tentu saja daya tahan baterai. Walaupun banyak produk yang berkeliaran dengan spesifikasi lebih bagus, tetap saja macbook air menjadi favorit.

Apakah konsumen bodoh? atau marketer yang justru bodoh? Bodoh jika menjadikan apple sebagai pembanding. Karena apple sendiri selalu ingin tampil “beda”. Ketika pada satu masa produsen banyak membuat netbook, apple meluncurkan tablet. Dan semua produsen kini memiliki tablet.

Saat mp3 diperkenalkan yang justru membuat industri musik khawatir, apple justru membuat iPod dengan iTunes untuk membangkitkan industri musik. So, people do love apple very much. Saat touchpad dihindari oleh kebanyakan pengguna notebook, apple membuat trackpad dengan fungsi gesture yang produktif, and users love it.

Menjadi trendsetter pastinya merupakan keinginan bagi tiap perusahaan, namun itu hanya akan terjadi jika kita mampu mengeluarkan produk yang berbeda dan juga indah. sederhana tapi sulit.

Pada akhirnya kita harus mengakui pada sukses suatu produk bukan sekedar masalah management maupun konsep pemasaran. Sukses produk juga merupakan sebuah karya seni yang tercipta melalui perenungan mendalam untuk menghasilkan maha karya.

Walau ada unsur komersial, namun pada proses pertamanya karya yang sukses lahir dari imaginasi yang di luar kotak.

Negeri di Awan


Cloud Computing

Setelah sebelumnya istilah “virtual” marak digunakan oleh praktisi-praktisi teknologi selama satu dekade sebelumnya, kini istilah “cloud computing” kian sering terdengar di telinga kita saat ini, seiring dengan semakin majunya infrastruktur di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Salah satu contohnya adalah produk Google yakni Google Docs, yang mengizinkan pengguna untuk mengelola dokumen Word tanpa harus menggunakan aplikasi Microsoft Word maupun OpenOffice di komputer yang digunakannya sekarang, namun cukup bermodalkan koneksi internet yang memadai saja untuk mengakses situs Google Docs tersebut. Continue reading “Negeri di Awan”

Esia, Operator Seluler paling Inovatif


Sebagai salah satu operator CDMA di Indonesia, Esia patut diacungi sepuluh jempol. Inovasi-nya sungguh terdepan dan memiliki konsep serta komitmen yang unggul. Hal tersebut sudah muncul sejak awal diluncurkannya Esia di Indonesia, bahkan inovasinya membuat operator besar baik GSM maupun CDMA mengekor langkah-langkah promosi yang dilakukan.

Pertama inovasi yang paling mendasar adalah konsep biaya telpon murah. Tidak dapat dipungkiri CDMA memang memiliki keunggulan biaya telpon yang lebih murah dibandingkan GSM. Tidak terjebak dalam promosi yang jor-joran namun cenderung menipu, Esia tetap konsisten dengan biaya 50 Rupiah per menit. Begitu pula dengan tarif SMS, bahkan sekarang dengan konsep 1 Rupiah per karakter walaupun ini diragukan tingkat “kemurahannya”, karena maksimal karakter artinya senilai 160 Rupiah.

Kedua Esia sadar bahwa tarif murah tidak cukup. Awal mulanya produk CDMA selalu dibayangi oleh produk handset yang lebih mahal dibandingkan GSM. Namun esia membuat kerjasama dengan berbagai pabrikan untuk menghasilkan bundling telpon yang paling murah, bahkan paling murah dibandingkan operator manapun  yang pernah tawarkan.

Ketiga, paling murah ternyata buka minim kualitas. Walau harus diakui masih ada kekurangan dalam hal coverage, tapi ternyata itu cukup menjawab kebutuhan kebanyakan konsumen. Nyatanya banyak produk-produk inovatif yang dimunculkan oleh Esia baik dari sisi Desain, fungsi, bahkan gaya. Contohnya HP paling tipis, Esia Hidayah, Esia Messenger, dan sungguh banyak lagi.

Keempat, sejak awal Esia tidak ingin memposisikan untuk menggantikan handset utama dari konsumen. Melainkan menjadi pelengkap. Teknologi unggul dari GSM tidak bisa dipungkiri baik dari sisi jaringan maupun kualitas handset, karena itu Esia memposisikan sebagai pelengkap. Karena tren di Indonesia masyarakat yang tergolong mampu akan memiliki lebih dari 1 handset. Namun demikian Esia juga ingin memposisikan sebagai alat komunikasi di “entry level”, atau tingkat pemula. Karena dengan harga yang paling murah ini menjadikan Esia bisa dimiliki oleh siapapun. Tidak heran kita bisa melihat maaf tukang sampah, penjual kaki lima, dan sebagainya saat ini sudah menenteng HP esia.

Kelima, Esia masuk dalam channel pemasaran yang baru. Tidak hanya melakukan promosi di tingkat retailer seluler, Esia melakukan promosi dengan cara membuatkan papan iklan untuk warung makan, toko kelontong, dan sebagainya. Dan benar-benar inovasi pemasaran yang luar biasa untuk meningkatkan awareness dan kesan dominasi. Dan terlihat tidak lama kemudian konsep tersebut mulai ditiru oleh berbagai operator seluler lainnya. Untungnya esia tidak terjebak pada promosi-promosi berlebihan seperti iklan disepanjang jalan tol yang rasanya buang-buang duit saja. Tidak hanya komunikasi, Esia memberdayakan para konsumen dan juga retailer untuk bisa melakukan penjualan pulsa.

Dengan terus menerus melakukan inovasi, Esia dengan langkah pasti akan semakin meningkatkan pangsa pasar ditengah persaingan operator seluler yang makin brutal. Industri seluler ini saat ini dipaksa untuk menikmati marjin yang sangat tipis jika ingin bersaing. Hanya Telkomsel saja yang merasa sudah mendominasi pasar yang masih enggan untuk menurunkan tarif. Wajar saja, buat apa tarif diturunkan jika masih belum terasa dampak penjualannya.

Inovasi dalam organisasi tentunya berangkat dari manajemen yang inovatif, memiliki idealisme kuat namun juga sangat market oriented, sehingga produk mudah untuk diterima dan bahkan memberikan kesan kagum di mata konsumen.

Why the World doesn’t need Blackberry?


Artikel di bawah ini dibuat sekitar 6 tahun yang lalu, dan terbukti dalam 3 tahun terakhir Blackberry semakin meredup.

Continue reading “Why the World doesn’t need Blackberry?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑