Search

XLN World

Passion for Improvement

Tag

business

Contoh “Cross-Up Selling”


Biasanya ketika pelanggan hendak membayar produk yang dibeli, di tanyakan “apakah ada yang lain?” untuk memastikan tidak ada pesanan yang terlupa sekaligus sebagai upaya untuk memancing pelanggan mengingat kembali produk lain yang perlu dibeli. Kalimat “apakah ada yang lain?” merupakan salah satu bentuk contoh “Cross-up Sell” yang sederhana.

Untuk meningkatkan atau tepatnya mengoptimalkan daya jual dari tiap pelanggan yang datang teknik cross-up sell dapat dikembangkan lebih jauh. Berikut contoh beberapa langkah cross-up sell yang dapat dilakukan:

  • Pertama kenali dengan baik produk/layanan yang dijual. Terutama di sales counter yang merupakan titik interaksi dengan pelanggan. Selain itu perlu ditunjang oleh keberadaan Sales Counter yang aktif atau rajin menawarkan suatu produk kepada pelanggan.
  • Selanjutnya menawarkan pembelian sekaligus dalam jumlah yang lebih banyak. Sebagai penjual perlu membayangkan konsumsi produk yang diperlukan oleh pelanggan. Misalnya yang semula hanya mengambil satu ditawarkan untuk mengambil dua (sesuai dengan kebutuhan). Aktivitas ini disebut sebagai “Up-Sell”.
  • Jika sudah optimal, selanjutnya bisa ditawarkan produk pelengkapnya. Misalnya jika membeli produk A umumnya juga diperlukan produk B yang akan memberikan manfaat kepada pembeli lebih baik lagi. Kesempatan ini juga tepat untuk menawarkan promosi penjualan yang sedang berlaku. Aktivitas tersebut yang dinamakan sebagai “Cross-Sell”.
  • Setelah itu baru kemudian ditanyakan “Apakah ada yang lain?” untuk membantu mengingatkan jika ada pesanan yang terlupa.
  • Program penjualan juga bisa dibuat untuk membantu meningkatkan pembelian. Misalnya harga lebih murah jika membeli lebih dari 1 unit, atau jika belanja minimal 100 ribu maka akan mendapatkan poin undian,  voucher, atau hadiah/gimmick yang nilainya tidak perlu mahal-mahal. Pada dasarnya pembeli akan menyukai hadiah yang menarik.
  • Aktivitas ini harus secara konsisten dilakukan dan dengan penuh semangat. Yang terpenting pada saat menawarkan tidak ada kesan “memaksa”, tapi yang tepat adalah “menginformasikan”.

Contoh Teknik Penetapan Harga


Harga yang lebih murah memang cenderung akan mendatangkan pelanggan yang datang lebih banyak, namun harga bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan sukses atau tidaknya suatu usaha. Dalam kajian pemasaran misalnya, penetapan harga baru akan dilakukan setelah menetapkan lebih dulu sasaran pelanggan yang dituju dan layanan apa yang akan ditawarkan kepada pelanggan.

Pada prinsipnya pelanggan akan membayar berdasarkan tingkat kelayakan yang mereka harapkan. Misalnya jika mengharapkan harga yang murah, tentunya jangan berharap pelanggan akan cepat terlayani karena antrean yang banyak, tidak banyak ruang menunggu atau parkir, atau bahkan keramahan dari pelayanan. Hal tersebut sangat alami karena fokus bisnis hanya terletak pada efisiensi agar bisa memberikan harga yang murah.

Untungnya masih banyak juga pelanggan yang sangat mengutamakan pada layanan. Dan pelanggan yang seperti ini berkenan untuk membayar lebih mahal, asalkan pelanggan mendapatkan benefit yang lebih baik. Misalnya kenyamanan dalam bertransaksi, jaminan pembelian, kecepatan layanan, dan sebagainya.

Teknik ini bisa akan lebih menguntungkan tanpa harus mengorbankan kepuasan pelanggan. Untuk menetapkan harga yang menarik, berikut salah satu contoh yang bisa dilakukan:

  • Cari harga termurah dan juga harga termahal dari produk/layanan sejenis.
  • Pelajari dengan baik kualitas layanan untuk tiap harga yang paling murah dan harga yang termahal.
  • Tetapkan harga diantara yang paling murah dengan paling mahal. Misalnya saja rata-rata harga paling murah dan harga paling mahal.
  • Tentukan kualitas layanan yang lebih baik atau minimal sama dengan kualitas layanan di harga termahal. Menghilangkan layanan yang dianggap tidak terlalu penting oleh pelanggan bisa dilakukan supaya marjin keuntungan yang diambil tetap besar.
  • Pesan yang bisa disampaikan kepada pelanggan adalah layanan yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau. Sesuai dengan sasaran pelanggan yang dituju.
  • Kualitas layanan juga jangan terjebak pada informasi fasilitas, tapi lebih kepada benefit apa yang dirasakan oleh pelanggan. Misalnya ketimbang mengatakan jumlah armada yang tersedia untuk melakukan pengantaran, lebih baik disampaikan bahwa pesanan pelanggan akan diterima dalam 30 menit.

Mencapai pendapatan 30 juta per bulan dengan ber-wira usaha


#1 Tetapkan sasaran Finansial

Sesuai dengan judulnya, jika ingin mulai berusaha maka tetapkanlah terlebih dahulu sasaran financial yang ingin dicapai. Dengan demikian usaha yang hendak dirintis akan mencapai hasil yang lebih optimal.

Walaupun tidak selalu tiap usaha harus selalu identik dengan tujuan financial, misalnya memberikan kontribusi kepada Negara, dan sebagainya. Tetap saja dari aspek bisnis, jika ingin tetap berlangsung untuk jangka panjang tentunya harus memiliki sasaran keuangan yang jelas.

#2 Memilih Jenis Usaha

Jika sudah menetapkan sasaran financial, maka selanjutnya bisa mulai dibayangkan industri jenis apa yang hendak digeluti. Karena tiap industri akan memiliki rasio keuntungan yang berbeda-beda dari tiap omset yang dihasilkan. Secara umum beberapa  rasio keuntungan yang dapat digunakan antara lain:

  1. Jika menjadi penyalur, biasanya rasio keuntungannya rata-rata sekitar 2%. Bisa kurang atau lebih, tergantung pada produknya juga. Tapi angka 2% merupakan angka yang umum.
  2. Jika menjadi pedagang retailer, angka keuntungan yang diperoleh rata-rata 5%. Ini juga tergantung produk dan juga tingkat persaingan.
  3. Membuka usaha restoran bisa jauh lebih menguntungkan. Kata kebanyakan orang untungnya bisa mencapai 50%. Tidak ada salahnya dicoba, tapi kebanyakan sih sekitar 30%. Ini juga tergantung pada konsep layanan yang ditawarkan, sekedar tempat makan atau hingga kualitas layanan kelas hotel?
  4. Sementara jika ingin memproduksi sesuatu, rasio keuntungannya kebanyakan juga bisa sekitar 30% – 40%.
  5. Pilihan yang perlu dipertimbangkan adalah membuka waralaba / franchise. Rasio keuntungannya kebanyakan sekitar 10%. Hanya cukup bertindak sebagai investor sekaligus pengawas. Karena sistem kerja, penyediaan SDM, semua sudah diatur oleh franchisor-nya.

#3 Menghitung Omset Continue reading “Mencapai pendapatan 30 juta per bulan dengan ber-wira usaha”

Change Your Value Stream through Channel Shifting


While music industries are still fighting for piracy, some major labels are finally realized they should change the value stream. Music business is no longer can’t rely on per CD / track sold. There should be another way. Like SonyBMG Indonesia, It seems they are freely distributing videoclips for Indonesian Market. User like me can easily enjoy the music without paying any Rupiahs. Then how the industry keep making money from their products?

In the last three years, the usage of Ring back tone has significantly increased. It’s very amazing growth and surprisingly making money. Music is sold not just from CD / Cassetes, but from RBT / i-Ring / NSP, etc. Even in more expensive price, image that one short track is priced round Rp.5000,- to Rp.10.000,-. Let’s compare if you buy for full tracks CD Album for only Rp.40.000,- contains for 10 tracks minimum.

Yes, the key is industry must response to market behavior changing. For consumer products perhaps it can be forced by the major player. What about business market? We should search for any new potential value chain, rather than keep focusing on traditional channel.

Just like Newspaper or any popular Magazines, the price you pay for each exemplar is not to cover the COGS but to pay the distribution fee from the publisher through media agent, and finally right on your hand. Business like newspapers automatically generate Corporate Social Responsibility by enabling poor children to sell the newspaper for attractive profit.

Turn your value chain into more inovative way. Research for your market and also potential market. Hopefully you’ll become the Pioneer in industry. The steps are on youw own, but the key is you must think out of the box and execute it inside the box.

The Long Tail: Where each Product always has its Market


No Matter How “Bad” is your Product, there’s always a market for it. So, don’t hesitate to produce more product / service to the market. But, each product shall have it’s own “Success Objectives”. Is it targeted to win the market share, or just be the second, or perhaps only certain value of your own.

That’s way defining objectives should be very clear, deep, and timely. “The Long Tail” taught us about managing business for products that is not targeted for the big segment. Kind of Niche Market, but in massive scale. The Lesson is never under-estimate your long tail product or segment.

If there’s conflict between apple and microsoft, then let it be. Every product has their own fanatics. However, criticsm is very important to be followed up and evaluate it with your objectives. Apple and Microsoft is not a good example for managing long tail, since they have big market for each product. My poin here is, why bother with competitors competitive advantage? I mean each product is developed under consideration for their own market. Like or not, there’s no more “brand domination” but only “market domination”. Since today products are built to meet their target market.

For the Long Tail products, it’s kind of a long road to “market domination”. However, since it’s already meet your objectives then it’s done. Someday the battle is not about products, but more about market. How each brand empower the consumer to build fanatic market or community.

Keep producing your creativity to meet your targeted market expectation. Involve them, and stimulate them to be a part of your product development. And your product will never fail in the long run.

Perlunya Pusat Informasi yang Aktif ke Market


Ketika kategori suatu produk masih tergolong baru maka sudah seharusnya para marketer membangun pusat informasi yang lengkap. Sehingga informasi yang mengenai suatu produk tidak simpang-siur. Banyaknya ulasan yang memperdebatkan semakin menunjukkan bahwa peran edukasi dari produsen masih sangat minim.

Continue reading “Perlunya Pusat Informasi yang Aktif ke Market”

Belajar dari Apple


Saya baru saja membaca buku “The Apple Way”. Tidak seperti buku-buku “Company X way” lainnya, perjalanan apple sangat mirip dialami oleh kebanyakan perusahaan. Buku seperti Toyota way, Disney, Google, berisi mengenai kesuksesan-kesuksesan di dalamnya. Impian bagi semua perusahaan, karena mereka ditunjang oleh kesempurnaan berbagai hal.

Apple ternyata seperti layaknya kebanyakan perusahaan yang bukan berada di puncak market share. Tapi Apple memiliki ke-elegan-an dalam berbisnis. Hasilnya, juga tidak spektakuler menurut saya. Tapi sangat bisa menjadi trendsetter. Sehingga ketika kita membaca buku tersebut, awalnya kita akan kagum dengan gaya, elegan, kualitas, dan juga inovasi. Tapi ternyata ada banyak kekonyolan juga di dalamnya. 

Kondisi yang jatuh bangun, tetap memiliki ego yang tinggi, menurut saya ini adalah cerminan banyak perusahaan di Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dan pastinya berguna:

  1. Walau tidak menjadi market leader, pastikan anda memiliki massa yang fanatik terhadap anda.
  2. Berani mencoba, walau sering gagal. Karena itu menjadi pembelajaran, ketimbang tidak melakukan inovasi apa-apa dan bermain aman.
  3. Kualitas yang inovatif. Berpikir out-of-the-box, eksekusi inside the box. Tepat sasaran, walau tidak banyak orang yang menyadarinya.
  4. Tidak ada musuh abadi ataupun kawan abadi, manfaatkan kemitraan dengan optimal untuk saat ini dan bersiap menghadapi segala serangan balik.
  5. Menjadi pusat perhatian dalam pemasaran, yang inovatif dan menarik. Intinya adalah make it look Great.

Sementara itu dulu yang bisa share, jika sudah selesai baca saya akan lengkapi lagi. Yang pasti, buku tersebut sangat menarik dan berbeda. Implementasi yang lebih membumi, ketimbang contoh-contoh perusahaan papan atas lainnya.

I’ll Show You the Low Cost Marketing


There’s so many articles discussing about present and future marketing trend. No matter the method is, budget will always haunt the marketer. This time, I am starting a project. And I’ll proof that it will works as effective as millions budget activities.
The key is, C2C marketing. All you need just orginize and direct them. Hopefully by the end of this year, I can share the project.

Let’s Think and Change


Competition outside is getting wilder, it means we have to do something. Business is not as usual, then how do you anticipate it? It’s time to think for innovation and make a change in organization. It is almost impossible if you claim that your organization is ready enough to face the competition ahead. Because your competitors will move more aggresively.

I learn something today, but here is the most important thing:

  1. Your top management must realize the need for change to anticipate the competition and to win it.
  2. Communicate your idea wisely, bring the vision and also challange for improvement.
  3. Innovative Idea often comes from brainstorming of two person.
How about you?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑