Search

XLN World

Passion for Improvement

Tag

business

Integrated Marketing Communication


Umumnya aktivitas komunikasi marketing dilakukan oleh Principal sebagai pemilik dari merek/produk yang dipasarkan. Sementara aktivitas marketing teorinya memiliki empat komponen utama yaitu:

  1. Produk
  2. Saluran Distribusi
  3. Promosi
  4. Harga

Komunikasi merupakan bagian dari promosi untuk memastikan bahwa di tiap saluran distribusi dan juga target pasar menerima informasi yang tepat yang dapat menggerakkan keinginan konsumen untuk melakukan pembelian produk tersebut.

Namun konsep Integrated Marketing Communication sepertinya menawarkan konsep yang berbeda. Hal ini dilatarbelakangi tidak lain adalah keterbatasan dari Principal untuk menjangkau seluruh channel distribusi ataupun target pasar-nya. Sehingga Kata Kunci dalam Integrated Marketing Communication (IMC) adalah “Channel Empowerment”, atau dengan kata lain menggunakan resource yang ada dalam hal ini saluran distribusi maupun promosi untuk mengkomunikasikan produk dalam bahasa, dan tujuan yang sama.

IMC pastinya melibatkan pihak lain di luar Principal, tidak sekedar marketing agency tapi juga saluran distribusi atau pihak-pihak yang menerima keuntungan dari penjualan produk tersebut. Karena melibatkan pihak luar, maka konsep Integrated menjadi sangat kental isunya. Yaitu bagaimana merencanakan, menjalankan, dan memastikan bahwa komunikasi produk tadi menggunakan bahasa dan tujuan yang sama.

Konsep channel yang akan digunakan adalah “Channel Motivation”, asumsinya channel selection sudah given dan melakukan perubahan di area tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Dalam bahasan distribusi di XLNWorld ini selalu ditekankan kepada inovasi dan juga peran sebagai “Channel Steward”. Artinya dalam konteks integrated marketing problemnya adalah siapa yang mengambil inisiatif terlebih dahulu, dan siapa yang dengan sukarela melakukan aktivitas integrasi? Dan seharusnya yang paling tepat adalah peran dalam distribusi penjualan. Kenapa? Karena distribusi dekat dengan retailer, dan mampu mendapatkan suara konsumen yang lebih akurat.

IMC bisa menjadi produk Distribusi yang inovatif. Namun bukan berarti seluruh aktivitas komunikasi menjadi tanggung jawab distribusi. Namanya saja integrated, sudah pasti melibatkan banyak pihak. Namun dalam konteks integrated ini, distribusi mengambil peran sebagai “Channel Steward”. Yaitu pihak yang berperan aktif dalam mengelola dan memastikan kelancaran komunikasi.

Kepanikan Pasar (Market Nerveousness)


Susah sekali mendapatkan terjemahan yang tepat untuk nerveousness, namun untuk jurnal kali ini rasanya kata yang paling mendekati mungkin adalah “Kepanikan”. Yang ingin disampaikan disini adalah fenomena yang luar biasa di sekitar kita terhadap respon pasar atas kejadian/kesempatan yang muncul yang menarik (attractive) bagi pasar (market). Apa kekuatan yang luar biasa dibalik respon pasar sehingga konsumen rela berbondong-bondong mengantri, menunggu berjam2, kadangkala membayar lebih mahal untuk sesuatu yang luar biasa juga, ataubahkan ramai-ramai menjual?

Antrian konsumen secara singkat dapat dibagi berdasarkan beberapa situasi, antara lain:

  1. Produk / layanan yang sedang tren. Contoh: J-Co, Breadtalk, saham
  2. Produk / layanan yang luar biasa. Contoh: Coto Makasar Karebosi, bakmi GM, Carrefour
  3. Akan terjadi kenaikan harga. Contoh: kenaikan BBM.
  4. Sedang ada potongan harga sesaat. Contoh: one-day sale, mid-nite sale, etc.
  5. Kelangkaan Produk. Contoh: kelangkaan minyak tanah, tiket pesawat/KA, elpiji.
Yang pasti diantara kelima kategori tersebut kelangsungannya bersifat temporer. Wajar jika terjadi antrian ketika produk yang dicari sifatnya langka. Namun untuk keempat hal lainnya, diperlukan situasi yang sangat khusus, strategi yang tepat, dan juga pasar yang tepat.

Kepanikan Pasar ini sebenarnya merupakan potensi tapi juga sekaligus keprihatinan. Disebut potensi karena ada peluang bagi para produsen untuk memanfaatkan momentum tersebut sebagai sasaran pencapaian target jangka pendek. Namun prihatin dari sisi konsumen, karena itu menunjukkan betapa moral “mencari kesenangan” sesaat terjadi dalam masyarakat kita.

Continue reading “Kepanikan Pasar (Market Nerveousness)”

Pengembangan Business


Pengembangan bisnis umumnya bisa dilihat dari dua sumber:

1. Pertumbuhan industri

Artinya bisnis kita mengandalkan pada pertumbuhan tingkat permintaan pada industri. Misalnya saja, dengan gaya hidup modern mengakibatkan pola makan yang tidak sehat. Salah satunya diindikasikan dengan meningkatnya penderita diabetes, yang otomatis kebutuhan produk-produk terkait diabetes juga meningkat.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah tingkat pertumbuhan bisnis kita lebih tinggi dari industri atau tidak. Penting bagi kita untuk selalu secara jeli melihat tren yang sedang terjadi di pasar dan segera meresponnya, agar tidak tertinggal.

2. Memperbesar pangsa pasar

Artinya pertumbuhan bisnis didapat dengan cara merebut pangsa pasar kompetitor, dengan kata lain membuat pelanggan kompetitor beralih ke bisnis kita.

Peningkatan pangsa pasar dapat dilihat dari peningkatan jumlah pelanggan bisnis kita yang lebih baik dibandingkan dengan kompetitor. Sehingga dalam persaingan yang semakin tinggi, diperlukan pengetahuan mengenai aktivitas kompetitor supaya kita dapat segera menyusun strategi lebih baik.

Untuk memperbesar pangsa pasar, maka terdapat beberapa strategi pertumbuhan yang dapat diterapkan:

  Pasar Baru Pasar Lama
Produk / Bisnis Baru Diversifikasi usaha Pengembangan Produk
Produk / Bisnis Lama Pengembangan Pasar Penetrasi Pasar
  1. Penetrasi pasar artinya kita mengoptimalkan produk-produk kita yang sudah ada kepada pasar yang sudah menjadi pelanggan. Misalnya membuat pelanggan menjadi loyal dengan kartu keanggotaan, program penjualan, dan lain-lain.
  2. Pengembangan pasar artinya kita mencoba untuk melayani customer di pasar yang baru. Misalnya dengan membuka cabang, membuat layanan pengantaran, dan sebagainya.
  3. Pengembangan produk artinya menawarkan produk/layanan baru kepada pelanggan yang sudah ada. Misalnya dengan meningkatkan variasi jenis produk yang dijual. Sehingga pelanggan tidak perlu mencari tempat lain untuk membeli.

Diversifikasi usaha merupakan langkah ekstrim untuk pengembangan bisnis, upaya ini dilakukan supaya jika terjadi sesuatu dalam bisnis yang ada saat ini maka masih ada bisnis lain yang dapat menjadi pegangan. Misalnya saja dengan membuka biro perjalanan, restoran, atau lainnya yang masih disekitar tempat usaha semula disesuaikan dengan minat/kebutuhan kebanyakan pelanggan.

Contoh “Cross-Up Selling”


Biasanya ketika pelanggan hendak membayar produk yang dibeli, di tanyakan “apakah ada yang lain?” untuk memastikan tidak ada pesanan yang terlupa sekaligus sebagai upaya untuk memancing pelanggan mengingat kembali produk lain yang perlu dibeli. Kalimat “apakah ada yang lain?” merupakan salah satu bentuk contoh “Cross-up Sell” yang sederhana.

Untuk meningkatkan atau tepatnya mengoptimalkan daya jual dari tiap pelanggan yang datang teknik cross-up sell dapat dikembangkan lebih jauh. Berikut contoh beberapa langkah cross-up sell yang dapat dilakukan:

  • Pertama kenali dengan baik produk/layanan yang dijual. Terutama di sales counter yang merupakan titik interaksi dengan pelanggan. Selain itu perlu ditunjang oleh keberadaan Sales Counter yang aktif atau rajin menawarkan suatu produk kepada pelanggan.
  • Selanjutnya menawarkan pembelian sekaligus dalam jumlah yang lebih banyak. Sebagai penjual perlu membayangkan konsumsi produk yang diperlukan oleh pelanggan. Misalnya yang semula hanya mengambil satu ditawarkan untuk mengambil dua (sesuai dengan kebutuhan). Aktivitas ini disebut sebagai “Up-Sell”.
  • Jika sudah optimal, selanjutnya bisa ditawarkan produk pelengkapnya. Misalnya jika membeli produk A umumnya juga diperlukan produk B yang akan memberikan manfaat kepada pembeli lebih baik lagi. Kesempatan ini juga tepat untuk menawarkan promosi penjualan yang sedang berlaku. Aktivitas tersebut yang dinamakan sebagai “Cross-Sell”.
  • Setelah itu baru kemudian ditanyakan “Apakah ada yang lain?” untuk membantu mengingatkan jika ada pesanan yang terlupa.
  • Program penjualan juga bisa dibuat untuk membantu meningkatkan pembelian. Misalnya harga lebih murah jika membeli lebih dari 1 unit, atau jika belanja minimal 100 ribu maka akan mendapatkan poin undian,  voucher, atau hadiah/gimmick yang nilainya tidak perlu mahal-mahal. Pada dasarnya pembeli akan menyukai hadiah yang menarik.
  • Aktivitas ini harus secara konsisten dilakukan dan dengan penuh semangat. Yang terpenting pada saat menawarkan tidak ada kesan “memaksa”, tapi yang tepat adalah “menginformasikan”.

Contoh Teknik Penetapan Harga


Harga yang lebih murah memang cenderung akan mendatangkan pelanggan yang datang lebih banyak, namun harga bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan sukses atau tidaknya suatu usaha. Dalam kajian pemasaran misalnya, penetapan harga baru akan dilakukan setelah menetapkan lebih dulu sasaran pelanggan yang dituju dan layanan apa yang akan ditawarkan kepada pelanggan.

Pada prinsipnya pelanggan akan membayar berdasarkan tingkat kelayakan yang mereka harapkan. Misalnya jika mengharapkan harga yang murah, tentunya jangan berharap pelanggan akan cepat terlayani karena antrean yang banyak, tidak banyak ruang menunggu atau parkir, atau bahkan keramahan dari pelayanan. Hal tersebut sangat alami karena fokus bisnis hanya terletak pada efisiensi agar bisa memberikan harga yang murah.

Untungnya masih banyak juga pelanggan yang sangat mengutamakan pada layanan. Dan pelanggan yang seperti ini berkenan untuk membayar lebih mahal, asalkan pelanggan mendapatkan benefit yang lebih baik. Misalnya kenyamanan dalam bertransaksi, jaminan pembelian, kecepatan layanan, dan sebagainya.

Teknik ini bisa akan lebih menguntungkan tanpa harus mengorbankan kepuasan pelanggan. Untuk menetapkan harga yang menarik, berikut salah satu contoh yang bisa dilakukan:

  • Cari harga termurah dan juga harga termahal dari produk/layanan sejenis.
  • Pelajari dengan baik kualitas layanan untuk tiap harga yang paling murah dan harga yang termahal.
  • Tetapkan harga diantara yang paling murah dengan paling mahal. Misalnya saja rata-rata harga paling murah dan harga paling mahal.
  • Tentukan kualitas layanan yang lebih baik atau minimal sama dengan kualitas layanan di harga termahal. Menghilangkan layanan yang dianggap tidak terlalu penting oleh pelanggan bisa dilakukan supaya marjin keuntungan yang diambil tetap besar.
  • Pesan yang bisa disampaikan kepada pelanggan adalah layanan yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau. Sesuai dengan sasaran pelanggan yang dituju.
  • Kualitas layanan juga jangan terjebak pada informasi fasilitas, tapi lebih kepada benefit apa yang dirasakan oleh pelanggan. Misalnya ketimbang mengatakan jumlah armada yang tersedia untuk melakukan pengantaran, lebih baik disampaikan bahwa pesanan pelanggan akan diterima dalam 30 menit.

Mencapai pendapatan 30 juta per bulan dengan ber-wira usaha


#1 Tetapkan sasaran Finansial

Sesuai dengan judulnya, jika ingin mulai berusaha maka tetapkanlah terlebih dahulu sasaran financial yang ingin dicapai. Dengan demikian usaha yang hendak dirintis akan mencapai hasil yang lebih optimal.

Walaupun tidak selalu tiap usaha harus selalu identik dengan tujuan financial, misalnya memberikan kontribusi kepada Negara, dan sebagainya. Tetap saja dari aspek bisnis, jika ingin tetap berlangsung untuk jangka panjang tentunya harus memiliki sasaran keuangan yang jelas.

#2 Memilih Jenis Usaha

Jika sudah menetapkan sasaran financial, maka selanjutnya bisa mulai dibayangkan industri jenis apa yang hendak digeluti. Karena tiap industri akan memiliki rasio keuntungan yang berbeda-beda dari tiap omset yang dihasilkan. Secara umum beberapa  rasio keuntungan yang dapat digunakan antara lain:

  1. Jika menjadi penyalur, biasanya rasio keuntungannya rata-rata sekitar 2%. Bisa kurang atau lebih, tergantung pada produknya juga. Tapi angka 2% merupakan angka yang umum.
  2. Jika menjadi pedagang retailer, angka keuntungan yang diperoleh rata-rata 5%. Ini juga tergantung produk dan juga tingkat persaingan.
  3. Membuka usaha restoran bisa jauh lebih menguntungkan. Kata kebanyakan orang untungnya bisa mencapai 50%. Tidak ada salahnya dicoba, tapi kebanyakan sih sekitar 30%. Ini juga tergantung pada konsep layanan yang ditawarkan, sekedar tempat makan atau hingga kualitas layanan kelas hotel?
  4. Sementara jika ingin memproduksi sesuatu, rasio keuntungannya kebanyakan juga bisa sekitar 30% – 40%.
  5. Pilihan yang perlu dipertimbangkan adalah membuka waralaba / franchise. Rasio keuntungannya kebanyakan sekitar 10%. Hanya cukup bertindak sebagai investor sekaligus pengawas. Karena sistem kerja, penyediaan SDM, semua sudah diatur oleh franchisor-nya.

#3 Menghitung Omset Continue reading “Mencapai pendapatan 30 juta per bulan dengan ber-wira usaha”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑