Search

XLN World

Passion for Improvement

Tag

Positioning

Belajar dari si Burung Biru


Jika di dunia global kita memuji Apple karena kreativitasnya dalam pemasaran maupun inovasi produk yang dihasilkan, maka untuk pasar domestik saya mengunggulkan si Burung Biru (Blue Bird) untuk menjadi kandidat kuat perusahaan yang inovatif. Sudah beberapa kali saya menghadiri sharing yang dilakukan bu Noni dan juga membaca artikel mengenai pengelolaan blue bird dari waktu ke waktu. Tidak pernah membosankan, dan bahkan selalu menarik untuk terus dipelajari dari waktu ke waktu.

Tidak jarang pula saya selalu menyempatkan berbincang dengan para pengemudi bluebird tentang tempat mereka bekerja. Dan pada akhirnya saya bisa menyimpulkan praktek manajemen kelas dunia yang perlu diacungi jempol.

  1. Identitas, idealisme, dan nilai perusahaan. Peran pendiri sepertinya terinternalisasi dengan sangat baik diseluruh aspek, mulai dari infrastruktur, proses, dan juga sumber daya manusianya. Walau tidak 100%, karena tidak ada yang bisa memiliki kinerja 100% di segala bidang. Nilai perusahaan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Pengemudi bluebird pun bisa menjelaskan mengenai pentingnya “KEJUJURAN”, dan apa manfaat kejujuran bagi diri mereka maupun perusahaan.
  2. Positioning Kuat. Belum ada tandingannya di negeri ini positioning taksi yang melebihi Blue Bird. Dikenal sebagai taksi berwarna biru, jujur karena tingkat pengembalian barang tertinggalnya tinggi, dan sopan di jalan raya paling tidak lebih sopan dibandingkan taksi-taksi lainnya. Siapapun akan merekomendasikan kepada orang lain di luar Jakarta untuk selalu menggunakan taksi Blue Bird karena lebih Aman.
  3. Persepsi karena dibentuk. Image positif bluebird bukanlah kebetulan, tapi karena melalui proses jangka panjang dan komitmen kuat dari manajemen. Kekuatan supply disesuaikan dengan demand. Kata-kata tidak cukup diucapkan dari manajemen hingga level individu, tercermin dari praktek leadership – menjadi contoh bagi tim kerjanya, tersedianya panduan kerja yang jelas dan mudah dipahami. Fokus, dan tidak memiliki tuntutan yang macam-macam. Kesederhanaan adalah salah satu kunci sukses.
  4. Nilai bukan sekedar Slogan. Bluebird adalah taksi yang bukan mengejar TARGET sebagai sasaran utama. Pengemudi bluebird mendapat penghasilan berdasarkan KOMISI dan BONUS. Ini yang menyebabkan pertumbuhan yang agresif namun dengan cara yang sangat elegan. Sehingga Bluebird menghasilkan produk dan layanan yang sopan dan image positif. Bandingkan dengan taksi lain yang ugal-ugalan, terlihat jelas mereka sangat dikejar Target, apalagi jika sampai sempat2nya melakukan Demo menolak beroperasinya taksi Bluebird di wilayah mereka.
  5. Pengembangan Individu. Siapa yang takut berkarir di bluebird? tiap individu memiliki kesempatan selama ada kompetensi yang dimiliki. Perusahaan ternyata memiliki komitmen. Bluebird tidak mengandalkan Target sebagai pemicu pengemudi untuk menghasilkan kinerja baik, melainkan melalui proses pengembangan. Pengemudi diberikan training secara berkala untuk meningkatkan kompetensi dan me-refresh kualitas tiap individu.
  6. Menjadi Terdepan. Tidak takut kehilangan customer, karena bluebird sudah mendapatkan kepercayaan dari kebanyakan customer. Inovasi sungguh berlimpah, dari bisnis unit taxi saja misal pemesanan via telp, SMS, kemudian pembayaran dengan kartu kredit, voucher, fasilitas majalah, infrastruktur taksi yang selalu baru (umur kendaraan tidak lebih dari 4 tahun), penggunaan gps, dan sebagainya. Sehingga bluebird selalu menjadi benchmark bagi perusahaan taksi lainnya.

Idealisme, dan praktek marketing bukan hanya konsep di atas kertas. Contohnya sudah ada di negeri ini, dan bluebird adalah salah satu contoh riil yang dapat saya share.

Apa tanggapan para pengemudi yang saya tanya mengenai bluebird? “Saya senang bekerja disini, karena lebih nyaman dan aman, saya pun diperhatikan oleh perusahaan”.

Comment on “Image vs Selling” at amaliamaulana.com


Membangun brand image rasanya tidak mudah, mungkin dari 1000 brand atau lebih hanya satu yang akhirnya bisa benar2 ter-build setelah melewati masa-masa panjang.

Konsep untuk inovasi dan diferensiasi juga terkadang sulit diwujudkan, karena tidak semua para marketer ini ternyata cukup inovatif. Kadang-kadang orang yang terlahir “kreatif” yang akhirnya punya peran untuk itu. Tapi saya juga pernah ikut workshop bahwa itu bisa dibentuk, dan saya sangat setuju.

Saya sendiri yakin secara jangka panjang, image jauh lebih penting daripada short-term selling. Karena selling ini kan lebih banyak tergantun pada “People”, tapi bicara “image” lebih kepada “system” yang didesain.

Apapun istilahnya, tiap bagian punya pekerjaan masing2. Marketer ya menciptakan image, sementara salesman ya menciptakan sales itu sendiri. Toh ini bukan pilihan mau yang mana kan, tapi dua-duanya yang harus dicapai.

Untuk menciptakan “image” secara instant, ya mungkin harus benar2 “inovatif” seperti google, air asia, “brand sedaap” dari wings, dan juga resto2 yang terkenal di jakarta, juga contoh “brand baru” yang cepat terkenal. Bahkan trend sekarang mengarah kepada C2C marketing ya? Bahwa membangun image tidak harus mahal, konsumen tidak jenuh, harus benar2 terkonsep dan Boom.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑