Search

XLN World

Passion for Improvement

Tag

Promotion

Hebatnya Enervon C menguasai pasar


Beginilah produk Vitamin C seharusnya… itu yang selalu terbesit dalam benak saya akhir-akhir ini. Awal mulanya saya lebih menyenangi produk Vitamin dalam bentuk effervescent, karena faktor psikologis terasa lebih menyegarkan. Hingga kemudian istri saya mengatakan “Cobain Enervon C deh”, tapi waktu itu pun saya belum mau coba. Karena pikir saya percuma saja, tidak akan memberikan efek yang kuat. Lama kelamaan saya mencoba, dan ternyata efek-nya jauh lebih baik dan dengan harga yang lebih terjangkau.

Tentunya sebagian orang masih ingat dengan gebrakan Vitamin C pertama yang mulai populer yaitu Xon Ce dengan model elma theana yang populer sejak iklan tersebut. Vitamin C mulai menjadi primadona saat itu untuk dikomersialkan sehingga mulai bermunculan produk-produk dengan beragam varian.

Efektivitas

Konsep pemasaran Enervon C luar biasa bagus. Isu daya tahan diangkat sehingga slogan “biar tidak gampang sakit” benar-benar efektif. Dan bukan slogan bohong. Saya sendiri merasakan manfaatnya. Jika sebelumnya saya konsumsi CDR dan produk imunomodulator secara rutin, masih saja sangat rentan untuk terkena flu. Tapi saat ini dengan konsumsi rutin, begitu ada gejala flu maka tidak sampai sakit Alhamdulillah sudah segera sembuh.

Walau tidak bekerja langsung pada sistem imun, Vitamin C masih memiliki peran untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Dimana saat ini juga mulai gencar produk imunomodulator. Mungkin dengan seiring berkembangnya produk herbal imunomodulator, harga bisa lebih murah dan dikombinasikan dengan lainnya.

Marketing

Dari sisi pemasaran, sepertinya Medifarma tidak hanya mengandalkan iklan yang bersifat massal. Event-event below the line juga agresif dijalankan. Dan yang lebih efektifnya lagi, banyak dokter yang masih meresepkan enervon c ini kepada pasien. Sehingga peran dokter sebagai endorser sangat-sangat efektif, ditambahkan dengan kombinasi awareness melalui ATL dan BTL.

Band “Gigi” sebagai endorser membawakan sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir ini. Distribusinya juga sangat luas sehingga mudah didapat dimana-mana.

Dari sisi harga, terbilang ekonomis walau bukan yang termurah. Jika CDR satu tablet-nya senilai 2.700 Rupiah, maka satu tablet enervon C harganya sekitar 900 Rupiah (kemasan isi 30). Walaupun kandungan Vitamin C hanya 500mg, tapi bisa dikonsumsi 2x dalam sehari dan itupun masih lebih murah. CDR mungkin tidak bisa jadi pembanding, karena ada tambahan kalsium. Mungkin yang sepadan adalah Redoxon dengan harga yang tidak jauh berbeda. Vitacimin atau Xon Ce dengan kandungan 500mg, bermain di harga sekitar 500 Rupiah per tablet hisapnya.

One stop multivitamin, mungkin ini yang ingin diusung oleh enervon C walaupun agak berlebihan karena masih ada produk lain yang mungkin lebih lengkap.

Kesimpulan

Suksesnya enervon C untuk mencoba menguasai pasar tentunya didukung oleh beberapa hal antara lain:

  1. Kualitas produk yang memang terbukti bagus.
  2. Distribusi yang baik
  3. Harga yang tepat, sesuai dengan yang ditawarkan. Tidak terlalu mahal.
  4. Pemasaran yang komprehensif. Tidak tanggung, semua channel dioptimalkan. skala ekonomis menjadi concern, sehingga pemasarannya memang harus all out, namun tetap efektif.

Rasanya tidak berlebihan jika Enervon C ingin memiliki Visi “Vitamin C yang harus ada di tiap rumah”.

Advertisements

Menjual Produk / Merek Yang Belum Terkenal (Studi Obat Batuk)


Tidak bisa dibilang jago menjual jika merek produk yang ditawarkan sudah memiliki popularitas yang tinggi di pasar. Sehingga tantangan utama bagi produk-produk yang sudah terkenal tersebut adalah memastikan ketersediaan di tiap titik penjualan, sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Namun perjalanan produk yang terkenal juga bukanlah jalan yang singkat dan mudah. Sebut saja merek Vicks untuk Obat Batuk, membangun awareness dan juga kepercayaan di pasar dirintis sejak puluhan tahun yang lalu. Sehingga saat ini tanpa memerlukan iklan TV dan radio pun sebagian besar pasar sudah mengetahui keberadaan dari produk Vicks Obat Batuk tersebut.

Tapi bagaimana untuk merek yang baru diluncurkan, apakah memerlukan perjalanan panjang seperti halnya obat batuk Vicks? Ternyata belum tentu, selama produk yang diluncurkan memberikan manfaat yang lebih baik lagi atau dengan kata lain produk inovatif. Contohnya saja Komix yang dikenal sebagai obat batuk dalam bentuk Sachet. Mungkin bukan yang pertama, tapi Komix merupakan obat batuk sachet yang sukses mendulang share dan juga awareness. Karena bentuknya mudah dibawa kemana-mana tanpa harus repot membawa botol obat batuk sirup.

Pemilihan bentuk sirup pun bukan tanpa perhitungan yang matang. Walau kemasan tablet atau kapsul jauh lebih praktis, namun secara psikologis bentuk sirup terasa langsung melegakan tenggorokan yang gatal. Sehingga untuk obat batuk rasanya sediaan sirup lebih favorit ketimbang sediaan padat.

Bagaimana dengan merek-merek baru lain yang dalam bentuk kemasan botol sirup, bagaimana bersaingnya? Keberadaan obat batuk sirup sejenis tentunya hanya untuk memenuhi pasar sehingga konsumen memiliki lebih banyak alternatif. Kenapa alternatif, percaya atau tidak ternyata banyak obat yang memiliki “kecocokan” dengan pasien-pasien tertentu. Jika tidak cocok dengan obat batuk merek tertentu, maka beralih ke merek yang lain. Dan jika cocok, maka tentunya bisa menjadi loyal kedepannya.

Disamping faktor “kecocokan”, ternyata banyak positioning yang bisa ditawarkan dari obat batuk. Misalnya obat batuk untuk batu berdahak, dan juga batuk kering. Bahkan ada kombinasi obat batuk dan Flu. Produk ini bisa ditemukan untuk merek misalnya Actifed, Bisolvon, Woods, Siladex, dan sebagainya. Hal tersebut membuat konsumen lebih “percaya” mengenai khasiat dari obat batuk tersebut yang lebih “tepat sasaran”.

Lantas, jika saat ini saya hendak mengeluarkan produk obat batuk. Maka obat batuk seperti apa kira-kira yang bisa langsung meraih awareness tinggi di pasar. Awareness dipengaruhi banyak hal, tapi yang utama pertama adalah Frekuensi dan jangkauan komunikasi, dan yang kedua adalah positioning unik dari produk tersebut.

Jika terkait dengan komunikasi yang lebih sering dan luas, contohnya di produk lain adalah Mie Sedaap. Masih ingat frekuensi kemunculan di TV dan juga billboard-nya. Dibutuhkan budget yang sangat besar, sehingga sempat muncul rumor bahwa keuntungan penjualan Mie Sedaap tidak sebanding dengan penjualan yang diperoleh. Toh Market share tetap masih dikuasai group indofood. Tapi itu bahasan yang lain.

Bentuk lain untuk meningkatkan awareness yang “lebih tepat sasaran” ketimbang mengandalkan budget besar untuk iklan TV tentunya adalah dengan mengandalkan promosi di titik-titik penjualan. Sifatnya berupa consumer dan/atau trade promo. Hal ini saat ini sering kita lihat prakteknya di outlet yang berkategori hipermarket seperti Carrefour dan Giant. Apotek chain seperti Guardian, Watson, dan Century juga kerapkali melakukan promo-promo serupa. Keberadaan SPG ataupun Sales counter yang aktif menawarkan membantu meningkatkan awareness di tiap pengunjung yang datang.

Namun seperti yang tadi sudah diutarakan, frekuensi komunikasi yang sering tidak akan efektif jika tidak disertai oleh positioning produk yang unik. Sebutlah tadi contohnya obat batuk kemasan sachet, obat batuk herbal, obat batuk rasa jeruk, obat batuk untuk batuk berdahak, dan sebagainya. Positioning-positioning tersebut sangat diperlukan untuk membantu konsumen mengingat apa kekhasan dari produk yang ditawarkan.

Untuk kategori produk yang tergolong “Red Ocean”, dimana pemainnya sudah demikian jamak, diperlukan positioning yang lebih inovatif lagi. Misalnya saja: Obat batuk dalam bentuk permen, bahkan mungkin dalam kemasan effervescent bubuk seperti “extra joss”. Bentuk permen saja bisa bermacam-macam, permen yang keras atau permen kunyah, permen karet, atau bahkan permen hisap seperti Vitacimin.

Untuk menghasilkan ide yang inovatif, maka harus melihat diri kita sebagai calon konsumen. Kemudahan atau harapan seperti apa yang ingin diperoleh dari suatu produk. Jangan sampai menghasilkan produk yang sebenarnya berkualitas karena khasiat yang ampuh, namun karena positioning yang kurang tajam mengakibatkan produk hebat menjadi produk yang biasa-biasa saja.

Bagaimana jika Hemaviton merebut Pasar Energy Drink


Kita sudah tahu lah bahwa energy drink disini didominasi oleh Extra Joss yang sudah menjadi icon di seluruh kelas segmen bahkan. Tidak hanya di Indonesia, daya rambah Extra Joss di pasar regional juga terhitung luar biasa.

Pasar Energy Drink sangat menarik, secara benefit konsumen yang mengkonsumsinya berharap dapat merasakan langsung efeknya. Biasanya minuman ini memang dikemas dan diminum dengan cara yang paling menyegarkan misalnya dingin.

Merek2nya cukup bervariasi, tidak hanya extra joss tapi juga ada ener jos, hemaviton jreng, kratingdaeng, m-150, dsb. Extra-joss cukup sukses merebut pasar krating daeng dengan slogan buat apa beli botolnya. Sehingga dengan kemasan sachet-nya daya jangkauannya makin luas dan membuat extra joss praktis untuk disimpan dan dibawa kemana-mana dalam jumlah yang banyak. Bandingkan jika harus membawa botol kratingdaeng, pastinya lebih berat.

Pasar konsumen kita pastinya menginginkan “KEPRAKTISAN”. Itu yang menjadi keunggulan bersaing dari para pioneer seperti extra joss, mizone, kopiko. Artinya bagaimana mengubah kebiasaan konsumsi yang tadinya harus melewati proses yang kompleks menjadi ke arah yang lebih sederhana, atau praktis.

Extra joss beli banyak bisa disimpan dalam kendaraan atau di saku celana. Begitu ada air bisa langsung konsumsi. Kepraktisan ini yang tidak ditawarkan oleh kratingdaeng juga m-150. Itu adalah inovasi yang luar biasa.

Namun pemain-pemain lain juga menangkap pasar itu, munculah Hemaviton jreng, kuku bisa ener-g, dan energy drink lainnya yang dalam kemasan sachet.

Karena sudah mulai banyak pemainnya, market leader berarti harus mulai berinovasi lagi jika tidak ingin market-nya direbut. Sehingga sekarang muncul varian rasa.

Apakah ada unsur loyalitas dalam energy drink. 90% tidak. Konsumen kita pada dasarnya cenderung ingin mencoba yang baru. Jika rasanya lebih cocok, efeknya lebih “TERASA”, maka dengan mudah konsumen energy drink ini akan beralih.

Peluang ini yang bisa dimanfaatkan oleh para pemain energy drink lainnya. Jika nomor satu dalam sukses tadi adalah soal “KEPRAKTISAN”, maka yang jadi nomor dua adalah “KETERSEDIAAN”. Bagaimana memastikan produk tersebut harus tersedia di segala channel. Toh ini produk all segment.
Betapa kecewanya dan mudahnya konsumen beralih jika produk itu tidak tersedia. Harga yang beda-beda dikit tidak jadi masalah selama memang ada benefit lain yang ditawarkan.

Inovasi Energy Drink: Coba buat ritual “Have it your way”, bagaimana menikmati energy drink yang maksimal untuk menghasilkan kinerja yang maksimal juga. Seperti Oreo itu lho dengan diputar, djilat, trus diclupin. Bagaimana membuat ritual untuk energy drink? Misalnya ambil air dingin, tuangkan, dan nikmati dengan perlahan. Rasakan sensasi segar yang dahsyat di tiap tegukan. Rasakan energinya.

Menciptakan ritual seperti itu akan membuat pasar yang lebih loyal dan pastinya meningkatkan awareness bahkan menggeser brand association-nya.

Innovation in the Bottom of Pyramid


Now who doesn’t go to retails? Yes, Bottom of Pyramid Market is widely open. And everybody goes there. In Jakarta there’s several practices: Mie Sedaap started entering Warung Makan, Nescafe has spreaded their banners into several “Warung Kopi” and so does Kapal Api. Celullar Provider also attacks non-cellulars retailer to provide “Warung Banner”, and the funny thing is one store may have more than 2-3 store banners from esia, indosat, xl, etc. Do they really enter the rural market? Is it correct if we name it strategy to enter the bottom of pyramid? In fact, these producers have already set their price strategy to touch “that market”. So, it does enter the bottom of pyramid. The Question is, when everybody goes there, i mean in exact same market, then perhaps the next challange is how to win the retailers heart at the most convinient way. All you need is simply innovation. Continue reading “Innovation in the Bottom of Pyramid”

Mie Sedaap Goes to Warung Makan


[Pemikiran 2007] Promosi melalui iklan yang gencar,  inovasi mie dengan rasa yang unik plus bawang gorengnya, siapa konsumen yang tidak tergoda untuk mencoba? Walau demikian, budget promosi mie sedaap juga tidak sedikit. Terdengar rumor bahwa margin keuntungan yang diperoleh belum sebanding, rupanya perjalanan panjang mie sedaap untuk menggeser mie instan dari indofood masih harus menghadapi berbagai rintangan. Lalu bagaimana ya supaya mie sedaap memiliki akselerasi peningkatan share yang lebih cepat? Continue reading “Mie Sedaap Goes to Warung Makan”

My Customer is My Salesman


Pernahkah kita mencoba mengamati kenapa J-Co ataupun Breadtalk selalu ramai pengunjung, hampir tiap rumah selalu kita temukan Tupperware, tiap orang yang kita temui hampir memiliki kartu kredit Citibank, dan juga kisah-kisah sukses dari penjualan produk lainnya. Sementara kita juga tahu bahwa untuk produk-produk tersebut jarang kita temui iklannya. Dan walaupun ramai pelangganpun tidak juga berniat untuk beralih pada produk/layanan lain.

Ada apa dengan Pelanggan saya?

Hasil penelitian terhadap pasar masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa hanya 14% orang yang percaya terhadap iklan. Bahkan 69% orang cenderung menghindari iklan, misal pada saat menonton TV, browsing di internet, menerima telpon dari telesales, dan sebagainya. Pelanggan kita sebenarnya hanya membutuhkan kenyamanan disaat mereka membutuhkan sesuatu di saat yang tepat, dan mendapatkan kepuasan. Continue reading “My Customer is My Salesman”

Blog at WordPress.com.

Up ↑